Cher,,, kayaknya panggilan ini lebih akrab ditelingaku dibandingkan Ibu/bu ditempatku mengajar sekarang.
Bahkan saat anak-anak ingin memanggil ibu/bu, mereka seolah menelan kembali ucapannya dan memanggil teacher atau mereka singkat Cher.
Pernah sekali waktu, ku berkata, "Coba dengarkan ibu sebentar.."
Sontak mereka menjawab, " Gak ikhlas, Cher kan masih muda. Belum menikah, gak ikhlas teacher cepat tua. Jadi panggil teacher aja ya."
Ingin ku jitak rasanya. Tapi selama ini mereka selalu sopan. Mereka nyaman dengan panggilan itu. Mereka happy saat bermain. Mereka cemberut saat harus mendapat tugas cukup banyak. Mereka akan berdebat saat mereka merasa tidak cocok atau tidak setuju.
Apalah arti sebuah panggilan bagiku, jika selama mereka sopan, maka panggillah Cher dengan gembira dan selalu bersukacita.
Dua hari yang lalu, seorang anak perempyan, dengan suaranya yang unik tiba-tiba berkata dengan sungguh-sungguh kalau kelak ia akan menjadi seseorang yang berhasil ia akan melakukan beberapa hal dan bla bla bla bla (sensor). Ia berjanji dengan mata yang berbinar dan wajah yg penuh haru. Kulihat air matanya hampir merebak. Ia nampak bersungguh2.
Lalu seorang teman nya menyelutuk, bagaimana jika saat kau ingin mewujudkan janjimu tapi Cher sudah tiada lagi ?
Lalu temannya yg lainnya membantunya menjawab, dia bisa memberi teacher bunga dan doa.
Sore itu, yang memang sedang mendung karena hujan turun, namun terasa hangat.
Hangat karena anak-anak memiliki sebuah harapan ingin menjadi orang yang baik kelak.
Mereka berani berjanji utk sesuatu hal yang baik. Ingin menjadi baik dan terbaik dengan cara mereka sendiri. Dengan kemampuan mereka sendiri.
Jika dengan panggilan Cher ini bisa membuat mereka bercerita banyak hal tentang keinginan dan impian serta keluh kesah mereka, panggilah Cher selalu.
Kuingat, dulu saat kami masih kuliah, dan harus melakukan PPL kesekolah, seorang teman ku berkata, "Het, kamu gak buat ciri khas pada nama mu? Supaya unik saat kita dipanggil murid."
Lalu kujawab, "aku tak tahu harus membuat keunikan seperti apa. Kamu sih memang udah unik."
Ya temanku itu, memberi nama Will pada tengah namanya. Ia mengizinkan anak sekolah tempat kami melaksanakan PPL memanggilnya dengan panggilan Pak Will .
Terdengar unik memang. Lalu aku??? Sampai masa PPL ku , aku tak menemukan panggilan unik khusus diriku.
Ternyata, memang bukan saat itu harus kutemukan panggilan unik bagiku.
Sekarang, setelah memasuki tahun ketiga aku mengajar, aku menyadari, bahwa "Cher" adalah panggilan unik bagiku.