Saya seorang Katolik.
Saya dibabtis tanggal 26 mei 2002, di Gereja Katolik Kristus Raja Sambas, dalam keadaan sadar dan sudah mengerti akan iman yang saya pilih.
Saya belajar dulu setahun lebih , pokoknya lama banget belajarnya. Jadi ingat pas ujan - ujan sama seorang sahabat, kami naik sepeda, trus pergi ke gereja, tetap belajar, pulangnya sambil nyanyi. alasanku saat itu, suara kedinginan sehabis ujan ujanan bisa buat suara bergetar wkwkwk. (teori anak es de )
dan saya menerima sakramen penguatan /Krisma tanggal 28 Oktober 2004, kelas dua SMP, ratusan orang saat itu. gereja sampe penuh sama orang yang mau krisma.
sempat berfikir begini, "aduh kasihan Bapa uskup segini banyak bakalan capek." hehehe maklum pikiran anak remaja yang rada slengek,an.
Menjadi Katolik, bukan hanya sekedar saya baptis, komuni pertama, dan krisma di gereja saja. bagiku, menjadi katolik bebannya luar biasa berat.
ingat dulu, ada teman yang senang memplesetkan kata Katolik , dan saya hanya bisa menangis saat di olok.
Kemudia saat memilih nama baptis, saya memilih nama sendiri. Saat itu saya SD, guru agama ku berkata,
"Hetty, kamu harus cari nama babtismu. lihat di buku doa ku. atau tanya orang tua mu."
masih ingat saat itu, beliau duduk di kursi, dan saya di panggil kedepan.
seminggu sodara2, buat saya memutuskan mengambil nama apa.
Sejak kecil, ternyata aku udah jadi manusia yg suka lari dari yang biasa dan menjadi aneh sendiri. Biasa orang pasti akan ambil nama babtis yang biasa ajj, nama santa yang sudah familiar di dengar.
lha saya???
dengan buta nya (karena nggak tau sejarah/riwayat hidup santa itu ) saya memilih nama Lidwina.
alasan saya gini, "kalo ini nama, saya bakalan beda sendiri. dikit yang pakai. trus agak susah di ucapin jadi teman ku yg jahil nggak akan mengejek namaku, terus namaku akan semakin sepanjang jalan kenangan panjangnya. wkwkwkkwk."
Oh Bapa, ampunilah. :)
.
tahun 2005 saya pindah. Beberapa kali ada ajakan yang memintaku mengubah iman ku. Dalam damai ku terus maju tak gentar. ah ,lucu. jadi ingin bernyanyi lagu maju tak gentar rasanya. . hahaaa...
Hingga saat ini, ku masih menjadi seorang Katolik. mengenai nama baptisku, aku baru mengenal siapa Santa Lidwina, saat ku lulus kuliah dan sedang menanti pekerjaan.
aKu browsing, mencari tahu, ah ternyata Santa Lidwina seorang wanita cantik, namun ia jatuh sakit, dan sisa hidupnya ia habiskan dengan menjadi pendoa dan banyak hal baik lainnya yang Ia lakukan bagi banyak orang.
Wow!!
menyadarkanku. sejak ku mulai tahu tentang Santa Lidwina, sedikit demi sedikit ku mengubah sikapku yang buruk dan keras. namun, belum berhasil. masih sangat buruk ternyata aku ini.
.
.
Banyak teman Katolik, sangat mengerti akan doa ini, doa itu, dan lainnya. Bahkan banyak yang sampai tau banyak kosa kata dalam bahasa Latin.
sedangkan saya?
bahasa latin yang saya tahu dan ingat betul itu cuma 3.
1.Dum spiro, spero, artinya selama aku hidup/bernafas , aku tidak putus asa
2.Lans Deo, artinya terpujilah Tuhan
dan
3. in cruce Salus, artinya dalam salib ada keselamatan.
hanya itu saja!
.
.
mengenai berdoa, kadang saya suka keseleo saat berdoa yang sederhana sekalipun. tak jarang saya mengulang satu kalimat doa dalam doa Bapa Kami hingga berkali kali, baru bisa benar meskipun saya hapal tapi selalu berulang ulang di kalimat tertentu.
saya tidak tau berdoa dengan fokus lama.
.
Roh memang penurut, tapi daging tidak.
sepertinya saya begitu. saat berdoa, ada nyamuk di kaki, saya akan segera menepuknya dan menggaruk meski mata tertutup.
namun, satu hal yang aku tahu, aku bisa 'ngobrol' lama dengan NYA. bicara seolah IA adalah rekan ku atau teman ku mengobrol.
aku bercerita. bercerita apa saja yang ingin kuceritakan. dan IA mendengarkan ku tanpa menyela ku.
banyak hal aneh yang selalu lari dari kebiasaan. tapi itulag diriku dalam menjalani hidupku.
Aku suka mengobrol, aku suka berteman meski ku tak pandai memulai suatu pertemanan. Aku suka berlari lari kesana kemari, berjalan dengan cepat, meski kusadarai imanku tak pandai memulai suatu pertemanan. Aku suka berlari lari kesana kemari, berjalan dengan cepat, meski kusadarai imanku lambat.
namun dalam lambat aku menikmati berjalan bersamaNYA.
Ia menyelamatkan hidupku saat aku pernah hampir sangat putus asa dan merasa semua sia-sia.
IA menemaniku, saat aku sungguh merasa sendirian.
IA memelukku meski aku lari jauhh dan membangkang.
IA menyadarkanku bahwa hanya didalam IA aku tenang.
teman, iman akan menyelamatkan. namun toleransi dan persaudaraan itu pun terutama.
tak peduli bagaimana cara kita hidup, cara kita berdoa, cara kita menjalani hari hari, cara kita menemukan iman, cara kita mendekatkan diri padanya, itu semua kembali pada cara dan pribadi kita masing masing.
kita memang tidak bersaudara dalam iman. tapi iman yang kita pilih akan mengajarkan kita bagaimana cara menjadi sebaik baiknya manusia. sehingga kita tidak lupa caranya menjadi manusia. :)
lalu Yesus berkata, "pergilah, imanmu menyelamatkanmu."
mari kita pergi, pergi mewartakan kasih, damai, persaudaraan dan menjadi manusia yang manusiawi.
ah, ocehanku malam ini terasa panjang, entah kemana mana, tapi rasanya senang ku bisa sedikit bercerita karena ku senang bercerita.
sebentar, lihat tanggal dulu.
ehhh sudah minggu ke tiga ya. sepertinya saya ingin bernyanyi,
.
"dalam Yesus kita bersaudara,,, dalam Yesus kita bersaudara... ........ .... sekarang dan selamanya... "
hehehehe yang ingat Homili seorang pastor saat paskah, pasti akan senyum-senyum :)
selamat malam, selamat istirahat. Tuhan berkati.