Senin, 01 Mei 2017

Antara Balon dan Karung Beras


Aku masih mengingat si supir pengantuk yang membawaku dan keluarga beberapa waktu lalu. Dia bertanya mengenai kehidupanku, Namanya siapa mbak? Usia berapa mbak? udah punya anak berapa? udah nikah?

keningku mengkerut mendengar urutan pertanyaannya. Dimana2 orang akan bertanya "sudah menikah kah" terlebih dahulu kemudian "anak berapa".
namun kujawab saja sekenanya.

Kusebut nama yg bukan namaku, kusebut usia yang bukan usiaku, dan kukatakan saya tidak menikah saat ini dan otomatis tidak memiliki anak. ingin ku mendebatnya, namun urung.

percuma melawan ucapan orang yang sangat mengantuk dan ia berbicara hanya agar rasa kantuknya berkurang.
Kemudian pertanyaannya menjurus pada arah politik. Ia mulai membicarakan kelemahan kepemimpinan Presiden kita saat ini.

Entah mengapa tidak ada yang baik baginya yang diperbuat oleh pemimpin kita. ingin ku membeberkan beberapa fakta, ingin ku mendebatnya, namun kuurung sekali lagi. semua itu akan percuma.

Percuma mendebat seseorang yang tidak tahu apa itu tanggungjawab. Ia membicarakan tanggungjawab pemimpin, tapi ia sendiri tidak bertanggungjawab dalam pekerjaannya sendiri.

Ia sudah tahu jadwal pekerjaannya harus mengemudi dimalam hari dalam kondisi fit dan tidak mengantuk, namun ia beberapa kali hampir saja menabrak mobil di pinggir jalan yang parkir. Ia bernafas sangat berat seperti , maaf, doggy , yang sedang mengendus suatu bau.

Tidak ada untungnya mendebat balon. Balon kosong, berisi udara hampa yang tidak berguna sama sekali.
lebih baik kita menjadi karung beras, berisi, dan berguna bagi orang lain sesuai dan tepat guna.

ps: Kepada seluruh pengemudi, bertanggungjawablah. karena pekerjaan anda tanggungjawabnya bukan hanya sekedar mengantar penumpang hingga tujuan, namun nyawa penumpang adalah prioritas utama.

Good morning wkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar