‘SI
KAWAN’
Semester
satu di Universitas Tapanuli. Aku berjalan pelan memasuki gerbang kampus yang
di kiri kanan di penuhi berbagai sosok manusia dari berbagai kalangan, style,
dan latar belakang. Aku tak begitu memperhatikan semuanya secara keseluruhan.
Ini
adalah hari pertama aku hadir di kampus sebagai mahasiswa karena tiga hari
sebelumnya aku masih di sebut calon mahasiswa. Dengan santai aku mengirim pesan
singkat kepada seorang teman, karena dia yang pertama kali kukenal. Namanya
landus. Aku memanggilnya Land.
ð ‘kamu di mana?’
= ‘aku depan BAAK,Jeng..’
ð ‘jemput aq ke gerbang, donk… malu
nihh’
= udah, gak usah pake malu sgala, jalan aja lurus. Tundukin
kepala kalo malu…’
ð Oke dech, tunggu di situ ya,,,,’
= ‘okeee, jeng…’
Kira-kira
seperti itulah awalku masuk ke kampus. Tanpa pernah kusadari aku akan menemukan
beberapa teman dan cerita yang unik nantinya diantara kami.
Berawal
dari mengenal Land, aku mengenal Pesta, Donna, April, dan Pepry terakhir si
ganteng kami Erik. Jika di urutkan berdasarkan usia, Pepry, Pesta, April, Donna, Ety, landus. Dan tum kami pisahkan dari hitungan umur, atau
tepatnya kami tak pernah membandingkan umur kami dengannya.
Bagiku
mengenal keenam temanku ini adalah hal luar biasa. Seorang Ety bisa punya teman
banyak begini adalah suatu hal yang unik karena sebelumnya tertutup dalam
berteman.
Hari-hari
dikampus kami lewati dengan berbagai kesenangan dan airmata.
ð Landus,
dia adalah seorang pesolek yang mahir. Tak jarang dia mengomentari penampilan
kami, mengajari kami untuk berdandan, dan banyak hal feminin lainnya. Usianya
yang tergolong paling muda diantara kami sangat bertolak belakang dengan sifatnya
yang penyabar, dewasa, pemaaf, dan ribut. Jika aku menangis dia orang yang
selalu berhasil membuatku tertawa. Dan dia juga orang yang bisa membuatku marah
karena sifatnya yang terlalu baik. Yah,,, si pudan. Hari-hari berlalu, kini dia
melakoni profesinya sebagai penjahit. Kuliah dijurusan bahasa Inggris, tapi
bercita-cita jadi designer. Hah…?????????? Jangan kaget, dia memang paling aneh
diantara kami. Bahkan dia pernah tidak bicara dengan April dalam jangka waktu
yang sangat lama hanya karena masalah ‘hati’. Cinta membuat buta dalam
bersahabat ternyata.
ð Ety.
Si centil yang paling galak, cerewet, dan paling cengeng. Paling senang
menutupi semua cerita kehidupannya dan jarang mau berbagi cerita dengan
temannya. Sifatnya yang tak bisa di tebak terkadang membuat temannya marah dan
tertawa. Baginya privasi adalah segalanya. Pernah sakit dan tidak memberitahu
temannya namun pada akhirnya dia marah-marah kerena tidak ada seorang pun dari
temannya yang menjenguknya. Kini dia berusaha melakoni kehidupannya sebagai
mahasiswi yang berjuang keras menahan sifat pemberontaknya kerena dia seorang
pengkritik yang pedas dalam berbicara. Pernah di marahi dosen dikelas karena
mengkritik pengajaran dosen.
ð Donna,
si lembut yang keibuan ini memang pantas di juluki ‘malaikat tak pernah marah’
karena dia memang tak pernah marah dalam keadaan apapun meski dia memang sudah
ingin marah namun entah bagaimana dia selalu berhasil menahan marahnya.
Cita-citanya ingin ke Prancis. Impian yang sangat besar namun kami
mendukungnya. Kepintarannya yang luar biasa selalu mendapatkan IP yang lebih
tinggi dari kami semua. Meski aku belajar setengah mati pun takkan pernah bisa
menandinginya. Minimal aku kalah 0,09 point. Yah,,, itulah malaikat kami.
ð April.
Pesolek minimalis. Wanita mungil ini sangat tidak pernah bisa ditebak jalan
pikirannya. Wajah imutnya yang meembuat dia seolah masih pantas untuk
mengenakan seragan SMP. Tapi sifatnya yang keras kepala atau tepatnya kepala
batu terkadang sangat menyebalkan. Banyak pria mendekatinya untuk menjadi
kekasihnya. Daftar nama-nama pria yang dekat dengannya pun cukup banyak. Namun,
dia tetap dengan kekasih masa SMA nya. Sungguh tidak bisa di tebak. Dia bisa
dengan mudahnya marah kepada kami. Dia akan mendiamkan kami dalam waktu yang
cukup lama jika dia sedang marah. Namun, dia tak sungkan untuk memeluk dan
menenangkan jika salah satu dari kami ada yang sakit atau bersedih. Pintar
membuat kue membuat ku iri padanya. Sangat feminine. Yah, wajar dia punya
beberapa kakak perempuan yang menjadi panutannya. Aku sering bertengkar
dengannya, bahkan aku pun pernah sangat marah padanya. Namun, dia adalah teman
belanja yang sangat menyenangkan karena kami sama-sama senang mengagumi
dompet-dompet cantik yang tertata rapi di etalase toko di pasar. Sijutek. Itu
kata yang tepat untuknya. (aku bisa membayangkan bagaimana wajahnya jika dia
membaca tulisanku ini. ^-^ ). Yah bagiku dia memang sosok teman belanja dan
teman berantam yang sangat oke!!
ð Pesta.
Gadis pemilik wajah bulat dan rambut keriting (sekarang sudah lurus,lho…) ini
benar-benar hobi makan tapi sangat malas memasak. Aku bisa membayangkan
bagaimana tingkahnya saat kami memasak dirumahku. Dia lebih memilih duduk manis
didepan tv dan menonton, sementara kami memasak. Dan dengan santai dia berkata,
‘silahkan masak yang enak yaaa,,,,, masalah cuci piring serahkan padaku nanti.’
Dan
dengan senang hati kami memasak dan mengotori semua piring, gelas, sendok,
panci, dan kuali karena ada jaminan bahwa seseorang akan mencucinya untuk kami.
Dan beruntungnya, dia tidak pernah complain dengan itu semua. (mungkin dia
berfikir bahwa ini adil). Dia akan menjitak kepala ku jika dia membaca tulisan
ini.
Pesta
selalu membuat kami tertawa hingga sakit perut. Hal apapun yang dilihatnya atau
didengarnya akan di ceritakannya dengan versi lucu dan kami tertawa
terbahak-bahak mendengar ceritanya. Aku masih ingat bagaimana saat dia masuk
rumah sakit beberapa hari dan kami semua kesepian karena tidak ada yang membuat
keributan saat di kampus. Melihatnya sakit terasa sangat tidak menyenangkan.
Tidak ada canda tawa atau kelakar nakalnya. Yahhhhh,,,, itu moment terburuk.
Namun, dia wanita yang hebat. Tertawalah sepuasmu selagi itu membuatmu nyaman.
Itulah pesta.
terakhir : TumpalErik,si
perfecsionist dan satu-satunya pria dalam grup kami (bisa dibilang kami
mencurinya tanpa sengaja dari grup teman kami yang lainnya). Sitampan ini
sangat memperhatikan penampilannya. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut,
tak satupun yang luput dari perhatiannya. Rambutnya yang ditata sedemikian rupa
sesuai dengan garis wajahnya. Wajahnya yang selalu mendapat ‘full atttention’
darinya selalu terlihat segar dan menarik. Kami jatuh hati pada nya. Senyumnya
mempesona namun dia punya tawa yang sangat….. sangat luarbiasa. Dia akan
tertawa dengan suara kerasnya. Pakaiannya yang modis dan selalu meniru gaya
pakaian pria-pria sampul majalah ternama. Perfect, lucu dan keren. Namun
cerewetnya juga ampun. Namun dia hanya 3 semester bersama kami di kampus.
Semester berikutnya dia pergi ke Singapura. Dia bekerja disana. Namun, tidak
lama dia kembali ke tanah air dan kuliah kembali bagian kesehatan di salah satu
kampus di medan. Yah, dia mengubah jalan hidupnya. Kini dia tampak begitu
menikmati kehidupannya yang baru di tempatnya yang baru dan dengan
teman-temannya yang baru. Sesekali ia datang ke kampus kami dan bertemu dengan
kami. Dia terlihat semakin perfect.
ð Terakhir,
Pepryanti. Gadis manis berhidung mancung yang punya selera humor luar biasa.
Baginya tiada hari tanpa tertawa. Kami menyukainya meski terkadang dia bersikap
aneh. Dia menyembunyikan semua bebannya melalui tawanya. Terkadang dia terlihat
sangat ramah, menyenangkan, dan lembut. Namun, dalam sekejap dia bisa berubah
terasa sangat jauh, menyebalkan, keras kepala, pesimis, dan minder. Seakan kami
tak mengenalnya jika dia sudah bertingkah demikian. Dia jarang bercerita kepada
kami tentang masalahnya, tepatnya kepadaku. Tapi dia sering bercerita kepada si
pudan. Dia sangat dekat kepada si pudan.
Satu waktu, aku, dia dan si pudan
duduk bersama di tepi kolam kampus (aku tak mengerti kenapa di katakan kolam
tersebut lebih mirip dengan empang), dia berkata, ‘semua terasa berat, lebih
baik aku mati saja!!’. Mendengar dia mengatakan hal tersebut, aku marah. Aku
benci mendengar nada pesimis darinya.
‘kau
mau mati?! Mati saja sana! Tenang aja, nanti kami patungan beli peti mati mu.
Sudah, mati saja sana!!!’
Dia
terdiam. Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku tak tega melihatnya.
Sipudan
dengan lembut menjawabnya, ‘kak,, tidak boleh bicara begitu. Tiap masalah ada
jalan keluarnya. Ceritalah sama kami.’
Aku
terdiam menunggu jawabannya.
‘mama
ku sering marah-marah padaku. Keluarga kami lagi banyak masalah dan aku mungkin
sudah tidak bisa kuliah lagi.’ Ujarnya pelan. ‘aku capek, mungkin mati lebih
baik. Aku jadi tidak merasakan apapun lagi nantinya.’
‘mati
mungkin tidak merasakan apa-apa lagi, namun pernah tidak kamu memikirkan
bagaimana persaan orang yang kamu tinggalkan? Bagaimana perasaan kami? tan,
kedua tanganmu masih begitu lembut, belum banyak yang kamu kerjakan dan sadar
tidak masih banyak hal berarti yang bisa dikerjakan oleh kedua tanganmu. Hidup
memang sulit, tapi ya hadapi sajalah. Karena itulah hidup.’
Dia
terdiam. Perbincangan kami terhenti kerena beberapa teman yang lain datang
menghampiri.
2
bulan kurang lebih, dia sakit dan harus operasi. Ada sesuatu yang harus dia
angkat dari perutnya. Daging yang yang sudah bersarang diperutnya yang
membuatnya merasakan kesakitan yang teramat sangat.
Kami
begitu khawatir. Saat hari operasi, kami menelepon ibunya. Kami mnedengar kabar
bahwa semua berjalan dengan lancar dan semua terkendali dengan baik. Kami lega
mendengarnya. Tuhan benar-benar adil.
Pemulihan
demi pemulihan dan akhirnya dia sembuh. Tidak dialaminya lagi rasa sakit perut
jahat itu. Namun, masalah baru datang. Putus kuliah. karena alasan ini dan itu yang sedikit rumit. Teman-teman mengantarnya. Tapi aku tidak. Dengan alasan ini itu,
aku tidak mengantarnya. Sebenarnya, aku benci perpisahan.
Di
batam dia bekerja. Waktu berlalu dengan cepat.
Kami tetap berkomunikasi, meski terkadang dia terasa sangat menyebalkan karena
terlalu cuek. Terkadang dia meneleponku, dan kami bercerita-cerita hingga rasa
rindu terobati. Dia bercerita, tertawa dan bernyanyi. Terkadang dia menyuruhku
bernyanyi.
Satu
hari, hari jumat sore, awal desember 2012 dia meneleponku. Saat itu aku sedang
kebersihan di rumah. Dengan menggunakan headset, aku bekerja sambil berbicara
dengannya.
‘tan,
gman kabarmu?’
‘baik
donk…. Kamu gimana?’
‘baik
juga, Cuma kantongku gak baik’
‘akh,
itu mah udah takdir elu kaleeee …’ ledeknya, dan aku tertawa.
‘gimana
tan, kapan pulang?’
‘doain
ajalah tahun depan aku pulang. Sekalian bawa si dia.’
‘wahhhh,,,
mantap tuh tan. Eh tan, nanti kalo pulang, traktir kami makan mie ayam ya….’
‘tenang
aja, jangankan mie ayam, sekalian sama penjualnya kita beli.’
‘hahahahahha
benar ya, tan?’
‘iya,,,,
tenang aja. Kita jalan-jalan sampai pegal. Nanti ku belikan baju kaos dari
sini. Tapi yang murah aja ya, biar uangnya cukup.’ Janji nya padaku.
‘wuihhhh,
makasih loh tan… baik dech..’
‘eh, nyanyi dulu…’ pintanya padaku.
‘ahhh, lagi serak suaraku. Tan lah yang
nyanyi….’ Ujarku
Dia bernyanyi, bercerita dan tertawa. Dia
berjanji akan pulang pada natal
tahun depan. Satu jam lebih kami bercerita, dan dia harus menutup teleponnya
karena aku memintanya.
Selasa
sore aku pulang dari kampus bersama dengan si pudan. Aku turun di pasar bersama
pudan dan menunggu seseorang datang menjemputku. Hujan yang menguyur pasar
membuat ku dan pudan berteduh di emperan toko. Kami berdiri seperti tunawisma
yang kebingungan akan tidur dimana mala mini sementara gigi gemelutuk dan bibir
bergetar kerena kedinginan. Saat situasi sangat tidak enak, sebuah mobil truk
berisikan bahan bangunan berhenti tepat di hadapan kami dan para pekerjanya
menggoda kami, seakan kami adalah anak kecil yang bisa mereka ledek sepuasnya.
Aku dengan wajah sewot tak peduli, namun sipudan malah bisa bercanda seenaknya.
Dia memang ramah pada siapapun. Aku heran dengan sifatnya yang satu ini.
Tiba-tiba telepon pudan barbering.
‘pesta
memanggil’
‘hallo
kak,,,’
‘apa???
Gak kedengaran suaramu kak. Ujan disini.’
‘Halooooo….’
‘ee,,
iya,, udah kedengaran. Apa kak?? Aaa…. Aaa???
Kakak
bohongkan??? Bilang kakak bohong.!! Gak betul itu kak. Dia gak boleh meninggal.”
Jerit si pudan sambil memelukku tiba-tiba.
Aku terkejut mendengar kata-katanya
yang terakhir. Meninggal?? Siapa??? Itu yang adda di benakku. Baiklahhh, aku
pun memelukknya, mengusap kepalanya dan berkata bahwa semua akan baik-baik
saja. Teleponnya di matikan. Sipudan menangis keras.
‘hei,,
siapa yang meninggal…?’ Tanyaku penasaran
‘kak
ty,,, si pep meninggal kata kak pesta.’ Dan seketika itu juga pecahlah
tangisnya si pudan.
WHATTT????!!!!!
Meninggal?
Hallowww,,,
dia baru saja meneleponku hari jumat kemarin. Ini tidak lucu. Sungguh tidak
lucu.
‘kamu
yakin dek kalau mereka tidak sedang
bercanda? Kamu tahukan pep dan pesta itu becandanya ampun-ampunan. Coba telepon
pep sekarang.’ Ujarku sambil menyangkal semua berita itu.
‘oke
kak… ‘
Krrrrrrrrrrr…….
‘hallo…,
tulang? Ini landis, pepry ada?
……
‘serius
dulu tulang….’
….
Tuuuutttttttttt….!!!
‘kak,,,
itu semua gak bohong kak… papanya pep lagi ngurus administrasi bandara biar
bisa bawa kak pep kesini.’
Sejenak
ku tertegun. Tuhan, mimpikah ini? Aku menggigit bibirku. Terasa sakit. Ini
tidak mimpi. Aku hanya bisa memeluk sipudan dan sambil berkata bahwa itu semua
bohong.
Waktu
berlalu terasa lambat. Aku bahkan sudah tidak mengingat lagi bahwa tujuanku
sebenarnya adalah untuk menunggu seseorang untuk menjemputku.
Sebuah
pesan masuk ke ponselku.
ð ‘sudah
dimana posisinya,dek?’
ü Di
depan toko bangunan.
ð ‘tunggulah.
Aku sudah mau sampai.
ü Okkk….
Aku
dan si pudan bingung harus berbuat apa. Kami hanya bisa saling memeluk dan
menangis. Kami sudah tidak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang
melihat tingkah kami. Beberapa pria mencoba menggoda dan mengejek kami, tak
kami gubris sedikit pun.
Abang
datang. Wajahnya penuh keheranan.
‘ada
apa?’ Tanyanya.
‘teman
kami meninggal.’ Jawab ku pelan.
‘jadi
kalian mau melayat ketempatnya?’
‘tidak
tahu, jenazahnya belum sampai. Masih di batam. Mungkin besok pagi baru sampai.’
‘ya
sudah, pulang saja dulu. Besok baru kita kesana. Ini sudah malam.’
Setelah
diskusi sejenak dengan sipudan, akhirnya kami pulang. Aku tidak tahu apakah si
pudan langsung ke rumah pep atau tidak. Mungkin dia langsung kesana. Aku yakin
itu.
Sepanjang
perjalanan aku hanya bisa bersandar di punggung abang. Semua tangisku tumpah di
punggungnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Semua kenangan, cerita, pertengkaran,
emosi, canda tawa, nyanyian yang sering kami nyanyikan bersama, bahkan suaranya
saat dia berbicara denganku ditelepon dihari jumat kemarin masih terasa sangat
nyata. Tawa nya yang penuh semangat saat dia bercerita tentang pengalamannya
bekerja di Batam. Aku hanya bisa menangis mengingat semua itu. Dalam hatiku aku
masih menyangkal semua itu.
Setiba
dirumah aku menumpahkan tangisku. Di kamar aku menangis
sejadi-jadinya. Di dinding aku melihat ada fotonya. Senyumnya terlihat seperti
mengejekku. Aku melempar fotonya dengan bantal.
Menyebalkan. Masih bisa kau tersenyum sementara aku
menangisi kematianmu???
Abang datang dan menghiburku.
‘mau menangis sampai kapan? Dia tidak akan bangun lagi
meski kamu tangisi sampai suara serak dan kamu sakit. Ikhlaskanlah dia. Dia
sudah tenang disana.’
Aku diam, kelelahan dan tertidur.
Keesokan harinya kami berkumpul dan menyiapkan karangan
bunga, sebuah tulisan yang kubuat kami selipkan di karangan bunga tersebut.
Tidak ikhlas, tapi kami harus melepaskannya. Terasa tidak adil, tapi inilah
kehidupan. Yang pergi harus di relakan, dan yang tetap tinggal itu berarti
masih harus terus berjuang di dunia yang fana ini.
Kami tiba di rumah pepry saat hujan turun. Dalam hati
kuberbisik,’alam pun menangis...’
Tak sanggup aku melihat jasadnya yang terbujur kaku di
ruang tamu rummahnya. Aku ingat beberapa waktu lalu saat dia baru selesai
operasi saat dia pulang dari Medan dia terbaring di tempat yang sama saat kami
mengunjunginya. Hanya bedanya saat itu dia tertawa menyambut kami dan saat ini
dia diam saja. Tak ada suara riang darinya, tidak ada senyum manisnya yang
menyambut kami. Saat ini hanya suara tangis mamanya yang menyambut kedatangan
kami dengan beberapa suara ibu-ibu yang berbisik-bisik saat melihat kami
datang.
Kami dipersilahkan untuk membuat acara. Sepanjang acara
kami hanya bisa menangis. Kusentuh tangannya. Dingin dan kaku. Tak sehangat dan
selembut dulu. Berbeda. Dingin. Dan kaku.
Kali ini aku pun kembali tak bisa menghantarnya pergi. Di
pertengahan acara aku harus pulang. Opung mau berangkat liburan hari ini dan
aku harus menghantarnya. Dalam hatiku aku membatin’ bahkan untuk terakhir
kalinya pun aku tak bisa menghantarnya.
Aku bersyukur ada alasan untuk pergi.
Karena aku benci perpisahan. Aku tidak mau melihat semua hal menyebalkan itu.
Biarlah, biarlah begitu. Selamat jalan sahabat. Kami tetap mengasihimu.
Biarlah
kami sahabatmu yang masih berkelana di bumi fana ini di limpahi tawa. Kami akan
mengenangmu dalam tiap tawa kami. Dalam setiap doa kami. Terima kasih untuk
waktu yang sangat singkatyang telah kita lewati bersama. Suatu hari nanti kita
akan berkumpul kembali dalam keabadian si rumah yang kekal.
(sahabat ini Maret lho,,, bulan kelahiranmu. aku masih mengingatnya. kau tahu, kami masih tetap merindukan mu)