Minggu, 24 Juli 2016

TERPENJARA

Siapa pemilik tubuh ini? -saya
Siapa pemilik emosi ini? -saya
Siapa pemilik tawa ini? -saya
Siapa pemilik tangis ini? -saya
Siapa pemilik amarah ini? -saya
Siapa pemilik pikiran ini? -saya
Siapa pemilik diri ini? -saya

Lalu mengapa , mengapa sulit sekali diri ini untuk mengungkapkan setiap rasa ini? Mengapa sulit sekali untuk mengeluarkan setiap emosi yang ada? Saya ingin menangis disaat ingin menangis, tetapi mengapa harus berpura-pura tegar dan tertawa?
Saya ingin tertawa lalu mengapa saya harus menahan tawa hanya secukup senyum simpul saja?
Saya ingin mengungkapkan segala nya dengan selepas-lepasnya, dengan sebebasnya, lalu mengapa seolah ada penjara di diri ini yang membuat saya sedikit pun tidak bisa mengungkapkan semua ini?

Tak jarang diri ini bertanya, kapankah akan bisa selepasnya, sebebasnya?
Inginku merdeka dalam kebebasan yang absolut tanpa harus terkungkung dalam penjara abstrak yang menyakitkan ini?

Tak jarang, ingin membagi semua emosi ini kepada orang-orang terdekat namun mereka selalu berkata ,

"Ada apa denganmu? Kami tidak mengenalmu jika kau bersikap demikian. Kau bukan kau yang kami kenal jika kau bertingkah demikian. kau yang kami kenal adalah sosok yang hebat, tak pernah bertingkah terluka dan menyedihkan seperti ini."

Mengapa diri ini semudah itu di cap "Kuat, Tegar, Hebat, Sempurna, Pintar, Cerdas."

Ada kalanya saya ingin hidup seperti orang lain yang bisa berkata bebas, bersikap sesuai isi hati mereka, tapi mengapa sulit?

entahlah

Kuberharap , Tuhan tetap mau menjadi tempatku bersandar dikala saya ingin menjadi sebebasnya.

(Dibawah rintik hujan di bulan Juli)
-Setetes air mata-

Kamis, 09 Juni 2016

And... The Winner is...............

10 Juni 2016

Setahun telah berlalu, perjuangan untuk tahun ini telah selesai. . .
selamat anak-anakku....

Bersama dengan mereka, mengenal karakter mereka, dan tak jarang mengajak mereka berdebat agar mereka mau mengeluarkan isi pikiran mereka.

Hari ini mereka sudah menerima hasilnya
Selamat untuk :
Sipelamun, Si serius, Si tegas, si pemarah, dan si Manja

hahahhahaaaaa

Selamat Libur anak-anak
kita dapat libur panjang..... :-)

Minggu, 05 Juni 2016

Ya, Saya Bersedia

In that night....

Malam itu, , , dengan bahasamu yang lembut, engkau bertanya ,

"Bersediakah kamu menjadi kekasihku, pendoaku, dan kita melangkah bersama menuju hari esok yang lebih baik yang hanya ada aku dan dirimu?"

Sebuah pertanyaan besar yang aku yakin akan mengubah seluruh tatanan kehidupanku, hal yang selama ini kuanggap tidak dan tidak masuk akal.

Pertanyaan ini juga akan menjadi titik kehidupanku. bahkan penentu untuk kehidupanku esok. entah mengapa aku merasa ini adalah pertanyaan yang sangat berat, sangat berisi tanggung jawab, harus bertanggungjawab dan berani, harus sanggup menjawab dan melangkah, penuh dengan berjuta rasa yang sulit 'tuk di ungkapkan. entah mengapa dan bagaimana, atau seperti apa pun ini, telah terjadi!

done!

Dia sudah mengucapkan kalimat itu. dan aku harus menjawabnya. sesaat ku tersikap.

aku sudah tahu ia pasti akan mengatakan ini, tapi aku tidak menyangka ini akan menjadi kalimat sesakral ini. tidak! ini sangat sakral.

Akuu terdiam. aku diam. menyelam sedalam mungkin, membiarkan sesuatu yang berasal dari dalam sana yang membuat keputusan. membiarkan bibir ini bekerja sama dengan kedalaman dan otak pun menggerakkan lidah yang tiada pernah bertulang untuk mengucapkan apa yang ada dalam jiwa karena jiwa tak akan pernah sanggup tuk berkhianat sehingga lidah pun tiada lagi sanggup tuk menjadi pengkhianat.

"Dalam nama Tuhan..." bisikku dalam hati dan bibir ku berucap dengan baik ,

"Ya,,, saya bersedia!"

Bersedia mengenalmu, bersedia membangun bahtera yang kokoh, bersedia membangun hingga sungguh siap berlayar, bersedia menjadi pendoa, bersedia menjadi 'rumah' , bersedia menjadi sahabat, bersedia menjadi saudara, bersedia menjadi kekasih, bersedia menjadi baik bersama, bersedia saling memantaskan diri, bersedia tertawa dan menangis bersama, bersedia saling memaafkan sebelum matahari terbenam, bersedia menjadi telinga dan perasa yang selalu siap hingga pada akhirnya menjadi keanggotaan yang utuh, bersedia mengejar masa depan yang terang dan baik adanya, bersedia mendengar semua rencana Tuhan bersama dan melaksanakannya, bersedia untuk kehidupan yang baru dengan diri kita yang baru untuk masing masing diri kita.

Ya, Saya Bersedia!

_CHXPLSS _

She is....

She is my beautiful

"Aku mencintaimu selalu, dan selalu dan selalu karena semua tidak akan pernah berubah meski langit telah menjadi kelabu" -Mz.Mitha-

Sepuluh tahun tidak bersama, tidak memeluknya, tidak memakan makanan yang di masak olehnya, tidak mendengar omelannya yang terkadang sangat menusuk, tidak di temani belajar olehnya,,,

Hingga akhirnya aku kembali dan bersamanya. semua terasa aneh. hidupku yang terbiasa sendiri, terbiasa berjuang sendiri, terbiasa menyiapkan segalanya sendiri, terbiasa menghadapi rasa sakit sendiri, terbiasa tegar sendiri, terbiasa menghapus air mata sendiri, hingga terbiasa merasakan tusukan jarum sendiri tanpa rasa takut, 

kini semua itu kuhadapai bersama nya. dia menggenggam tangan ku, memelukku, memasak untukku, menyediakan segala nya untukku dan berkata,

"karena kamu Tuan Putri bagi ku."

aku kembali membiasakan diri untuk di atur olehnya, di manjakan olehnya, dikuasai oleh cintanya yang berlimpah ruah terhadapku setiap harinya.

disaat kusedang bekerja, saat ku sedang mengajar di kelas, ia akan datang dengan kantongan di tangannya dan bisa ku tebak apa isinya.

makan siang untukku.

Ia akan mengantarkannya ke kelas ku, mengetuk pintu kelas, dan tersenyum terhadapku. Aku menghentikan proses belajar sesaat, menghampirinya di pintu dan menyambutnya , kusadari semua muridku memandang pada kami, ah,,, aku tidak peduli. Dia datang untukku, untuk membawakan ku makan siang,

Aku tahu, sehabis ini akan ada beberapa teman guru akan sedikit membuat joke padaku di kantor. tidak apalah. itu karena mereka iri padaku.

Setelah itu, ia akan pergi dengan segudang pesan. percayalah , sore aku akan kembali bertemu dengannya tapi ia selalu khawatir atasku.

Ah,,, biarlah begitu selama itu bisa membuatnya bahagia.

Quality time bersamanya selalu menyenangkan. Pergi makan mie bersama dengannya di pasar dan ia selalu memaksa untuk membayar meski ia tahu aku memiliki cukup uang untuk membayar semua makanan yang kami makan.

Sekali lagi, biarlah, selama itu dapat membuatnya bahagia. Melihatnya tersenyum karena aku menurutinya itu sudah menyenangkan hati. Senyumnya seakan dapat mendamaikan dunia , surga dan neraka sekaligus.

Setiap pagi, jika ku ada kesempatan, aku suka memeluknya dari belakang dan berkata ,"gendong aku seperti dulu..." dan ia akan bertindak seolah ingin mengangkatku.

Tubuhnya menua, dan aku lebih tinggi darinya, lebih berat, dan pasti tidak akan mungkin lagi menggendongku. karena saat aku kelas 5 SD pun , ia sudah kesulitan menggendongku.

Tapi aku suka sekali berada di punggungnya berlama-lama karena sangat hangat, memeluknya sambil menyandarkan kepalaku di tengkuknya dan menutup mata barang sejenak.

Ya,,, aku merasa kembali bertenaga jika sudah dalam keadaan seperti ini.
Mood booster . Ya... begitulah bahasa sederhananya. ia memang selalu yang terbaik dari yang baik adanya.

Saat ulang tahunnya, 21April, sengaja membuat sedikit kejutan kecil baginya, ah ia malah memarahiku karena membuang uang dengan membelikannya hadiah , katanya saat itu.
Tapi ia tetap meniup lilin ulangtahunnya dan tersenyum dengan mata berbinar.

Dan ia jarang sekali memakai hadiah dariku, alasannya agar tidak cepat rusak. Ha...Ha...Ha... bahkan rusak pun masih bisa di ganti, dan aku tak akan berkecil hati untuk menggantinya.

Tapi sekali lagi ia mengajariku bagaimana cara menghargai dengan caranya.

Ia bukan wanita yang jenius, bukan yang berpendidikan tinggi, bukan juga wanita sosialita. Ia hanya seorang wanita sederhana dengan hati yang kaya, jiwa yang megah, dan pikiran yang sangat kuno. Tetapi ia selalu jadi yang terbaik, terbaik dan selamanya akan jadi yang terbaik!!

Pagi ini,,,, saat aku sedang menulis ini semua tentangnya,,, ia baru saja kembali mencoba menggendongku sambil tertawa dan ia berkata,

"Kamu berat... oh ya apa kau sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalananmu?"

Aku hanya berdehem sejenak dan tetap memeluknya, merasakan kedamaian surga, dan menikmati waktuku dengan keadaan yang indah adanya ini.

Harum telur goreng menusuk hidungku, menggoda perutku, dan siap menggoyang lidahku, ah... ada baiknya aku segera ke dapur.

Ahhh.... engkau pasti bingung siapa wanita itu? seharusnya tanpa ku katakan engkau sudah harus tahu siapa yang ku maksud kawan ...

Ya ..... Engkau benar sekali!!
Dia Ibuku, Mamaku, Bunda tercantikku.

Dari pelosok Kalimantan, kukirim sejuta sukacita untuk semua.

Selasa, 05 April 2016

Mengapa?

"Keinginan hatiku, bisikan jiwa ku, tuntutan batinku, dan kebutuhan ragaku, bersatu dalam diri ini, hingga kini ku masih terus menggali siapa aku dan mengapa aku ada di bumi ini"

Menjelang , ah tidak!  39 hari lagi genaplah seperempat abad usiaku di dunia ini. Entah apa saja yang sudah ku lewati,  kini mulai terkilas kembali kedalam memori ini. 

07 September 1991 yang silam,  aku lahir.  Lahir dengan cara yang sangat lucu.  Ibu tercinta harus berjuang begitu lama agar kubisa terlahir di dunia,  namun ketika berkas ijazah ayahku diletakkan di perut beliau,  maka lahirlah aku dengan tangisan memecah sang langit dan menggetarkan sang bumi di tengah hiruk pikuk dunia.

Anak perempuan dengan bobot hampir 4kg,  dengan pipi layaknya bakpau,  dengan kepala tanpa rambut.

Ya,,,  jika kurenungkan,  bukankah di saat seperti ini,  dulu,  aku sedang didalam perut ibunda dan merasa sangat damai tanpa kurang satu apapun? 

Lalu mengapa Dia Yang Kuasa mengizinkan aku hadir di dunia ini? aku masih bertanya apa Tujuanku Lahir didunia yang menyakitkan ini.

Sabtu, 02 April 2016

Melompat bersama Viany

Melompat Bersama Viany
(Sabtu, 2 April 2016)
------------------------

Dia gadis kecil yg mungil. Sering memanggilku dan tersenyum padaku. tak jarang sesekali aku suka menggodanya dan ia akan tersenyum padaku.

Terkadang saat ia pulang les dari rumah gurunya, ia sering menunggu ayahnya di rumahku. Duduk di teras rumah dan kadang ikut masuk ke rumah sambil melihat temannya yg sedang belajar di rumah.
Aku jatuh hati padanya yang lucu, manis dan unik. Seperti malaikat unik.

Saat pelajaran olahraga kemarin, ia menatap nanar segitiga loncatan. sambil menggeleng pasrah ia menatap ku.
Dan berguman kecil,

"saya tak bisa"

meski lafal pengucapannya sangat sulit ku dengar tapi aku mengerti apa yg dia sampaikan.

lalu ku sambut kedua tangannya dan berkata,

"ini bukan apa-apa bagimu. kamu bisa. ayo ibu bantu."

Dengan berdiri di belakangnya, ku pegang kedua tangan mungilnya, sambil menghitung,

one,,, twoo... jump!!!!

ia meloncat dengan sangat mudah. ia menumpukan kepercayaan dalam genggaman tangannya yg erat pada tangan ku. loncatan demi loncatan berhasil ia loncati .

saat membantunya meloncat, secercah ku merasa ada sedikit luka dalam hatiku yang berhasil aku sembuhkan.

ia mengajariku untuk percaya, percaya kepada orang yang menawarkan bantuan, genggam tangannya, meloncatlah dengan tinggi, dan berhasillah.

saat loncatan terakhir, ia terlihat tersenyum puas.

aku mengerti ketakutannya di awal. tinggi segitiga loncatan itu hampir sama tingginya dengan tubuh mungil nya.

tapi saat aku menawarkan kedua tangan ku, ia tanpa ragu meloncat dan terus meloncat.

bukan kah itu indah?

Demikian juga Allah.
Mengulurkan tangan kasih NYA utk membantu kita

Semua pilihan ada pada kita

Untuk memilih meloncat tinggi bersama Allah atau  menjauhi Allah dan terus merasa takut.

selamat hari minggu kerahiman
Allah beserta kita semua.

*Ketika kisah menjadi kasih*

Rabu, 09 Maret 2016

CSF , SIKAWAN

‘SI KAWAN’ 

Semester satu di Universitas Tapanuli. Aku berjalan pelan memasuki gerbang kampus yang di kiri kanan di penuhi berbagai sosok manusia dari berbagai kalangan, style, dan latar belakang. Aku tak begitu memperhatikan semuanya secara keseluruhan.
Ini adalah hari pertama aku hadir di kampus sebagai mahasiswa karena tiga hari sebelumnya aku masih di sebut calon mahasiswa. Dengan santai aku mengirim pesan singkat kepada seorang teman, karena dia yang pertama kali kukenal. Namanya landus. Aku memanggilnya Land.

ð kamu di mana?’
= ‘aku depan BAAK,Jeng..’
ð ‘jemput aq ke gerbang, donk… malu nihh’
= udah, gak usah pake malu sgala, jalan aja lurus. Tundukin kepala kalo malu…’
ð Oke dech, tunggu di situ ya,,,,’
= ‘okeee, jeng…’

Kira-kira seperti itulah awalku masuk ke kampus. Tanpa pernah kusadari aku akan menemukan beberapa teman dan cerita yang unik nantinya diantara kami.

Berawal dari mengenal Land, aku mengenal Pesta, Donna, April, dan Pepry terakhir si ganteng kami Erik. Jika di urutkan berdasarkan usia, Pepry, Pesta, April, Donna, Ety, landus. Dan tum kami pisahkan dari hitungan umur, atau tepatnya kami tak pernah membandingkan umur kami dengannya.

Bagiku mengenal keenam temanku ini adalah hal luar biasa. Seorang Ety bisa punya teman banyak begini adalah suatu hal yang unik karena sebelumnya tertutup dalam berteman.
Hari-hari dikampus kami lewati dengan berbagai kesenangan dan airmata.

ð Landus, dia adalah seorang pesolek yang mahir. Tak jarang dia mengomentari penampilan kami, mengajari kami untuk berdandan, dan banyak hal feminin lainnya. Usianya yang tergolong paling muda diantara kami sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang penyabar, dewasa, pemaaf, dan ribut. Jika aku menangis dia orang yang selalu berhasil membuatku tertawa. Dan dia juga orang yang bisa membuatku marah karena sifatnya yang terlalu baik. Yah,,, si pudan. Hari-hari berlalu, kini dia melakoni profesinya sebagai penjahit. Kuliah dijurusan bahasa Inggris, tapi bercita-cita jadi designer. Hah…?????????? Jangan kaget, dia memang paling aneh diantara kami. Bahkan dia pernah tidak bicara dengan April dalam jangka waktu yang sangat lama hanya karena masalah ‘hati’. Cinta membuat buta dalam bersahabat ternyata.

ð Ety. Si centil yang paling galak, cerewet, dan paling cengeng. Paling senang menutupi semua cerita kehidupannya dan jarang mau berbagi cerita dengan temannya. Sifatnya yang tak bisa di tebak terkadang membuat temannya marah dan tertawa. Baginya privasi adalah segalanya. Pernah sakit dan tidak memberitahu temannya namun pada akhirnya dia marah-marah kerena tidak ada seorang pun dari temannya yang menjenguknya. Kini dia berusaha melakoni kehidupannya sebagai mahasiswi yang berjuang keras menahan sifat pemberontaknya kerena dia seorang pengkritik yang pedas dalam berbicara. Pernah di marahi dosen dikelas karena mengkritik pengajaran dosen.

ð Donna, si lembut yang keibuan ini memang pantas di juluki ‘malaikat tak pernah marah’ karena dia memang tak pernah marah dalam keadaan apapun meski dia memang sudah ingin marah namun entah bagaimana dia selalu berhasil menahan marahnya. Cita-citanya ingin ke Prancis. Impian yang sangat besar namun kami mendukungnya. Kepintarannya yang luar biasa selalu mendapatkan IP yang lebih tinggi dari kami semua. Meski aku belajar setengah mati pun takkan pernah bisa menandinginya. Minimal aku kalah 0,09 point. Yah,,, itulah malaikat kami.

ð April. Pesolek minimalis. Wanita mungil ini sangat tidak pernah bisa ditebak jalan pikirannya. Wajah imutnya yang meembuat dia seolah masih pantas untuk mengenakan seragan SMP. Tapi sifatnya yang keras kepala atau tepatnya kepala batu terkadang sangat menyebalkan. Banyak pria mendekatinya untuk menjadi kekasihnya. Daftar nama-nama pria yang dekat dengannya pun cukup banyak. Namun, dia tetap dengan kekasih masa SMA nya. Sungguh tidak bisa di tebak. Dia bisa dengan mudahnya marah kepada kami. Dia akan mendiamkan kami dalam waktu yang cukup lama jika dia sedang marah. Namun, dia tak sungkan untuk memeluk dan menenangkan jika salah satu dari kami ada yang sakit atau bersedih. Pintar membuat kue membuat ku iri padanya. Sangat feminine. Yah, wajar dia punya beberapa kakak perempuan yang menjadi panutannya. Aku sering bertengkar dengannya, bahkan aku pun pernah sangat marah padanya. Namun, dia adalah teman belanja yang sangat menyenangkan karena kami sama-sama senang mengagumi dompet-dompet cantik yang tertata rapi di etalase toko di pasar. Sijutek. Itu kata yang tepat untuknya. (aku bisa membayangkan bagaimana wajahnya jika dia membaca tulisanku ini. ^-^ ). Yah bagiku dia memang sosok teman belanja dan teman berantam yang sangat oke!!

ð Pesta. Gadis pemilik wajah bulat dan rambut keriting (sekarang sudah lurus,lho…) ini benar-benar hobi makan tapi sangat malas memasak. Aku bisa membayangkan bagaimana tingkahnya saat kami memasak dirumahku. Dia lebih memilih duduk manis didepan tv dan menonton, sementara kami memasak. Dan dengan santai dia berkata, ‘silahkan masak yang enak yaaa,,,,, masalah cuci piring serahkan padaku nanti.’

Dan dengan senang hati kami memasak dan mengotori semua piring, gelas, sendok, panci, dan kuali karena ada jaminan bahwa seseorang akan mencucinya untuk kami. Dan beruntungnya, dia tidak pernah complain dengan itu semua. (mungkin dia berfikir bahwa ini adil). Dia akan menjitak kepala ku jika dia membaca tulisan ini.
Pesta selalu membuat kami tertawa hingga sakit perut. Hal apapun yang dilihatnya atau didengarnya akan di ceritakannya dengan versi lucu dan kami tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya. Aku masih ingat bagaimana saat dia masuk rumah sakit beberapa hari dan kami semua kesepian karena tidak ada yang membuat keributan saat di kampus. Melihatnya sakit terasa sangat tidak menyenangkan. Tidak ada canda tawa atau kelakar nakalnya. Yahhhhh,,,, itu moment terburuk. Namun, dia wanita yang hebat. Tertawalah sepuasmu selagi itu membuatmu nyaman. Itulah pesta.

terakhir : TumpalErik,si perfecsionist dan satu-satunya pria dalam grup kami (bisa dibilang kami mencurinya tanpa sengaja dari grup teman kami yang lainnya). Sitampan ini sangat memperhatikan penampilannya. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut, tak satupun yang luput dari perhatiannya. Rambutnya yang ditata sedemikian rupa sesuai dengan garis wajahnya. Wajahnya yang selalu mendapat ‘full atttention’ darinya selalu terlihat segar dan menarik. Kami jatuh hati pada nya. Senyumnya mempesona namun dia punya tawa yang sangat….. sangat luarbiasa. Dia akan tertawa dengan suara kerasnya. Pakaiannya yang modis dan selalu meniru gaya pakaian pria-pria sampul majalah ternama. Perfect, lucu dan keren. Namun cerewetnya juga ampun. Namun dia hanya 3 semester bersama kami di kampus. Semester berikutnya dia pergi ke Singapura. Dia bekerja disana. Namun, tidak lama dia kembali ke tanah air dan kuliah kembali bagian kesehatan di salah satu kampus di medan. Yah, dia mengubah jalan hidupnya. Kini dia tampak begitu menikmati kehidupannya yang baru di tempatnya yang baru dan dengan teman-temannya yang baru. Sesekali ia datang ke kampus kami dan bertemu dengan kami. Dia terlihat semakin perfect.

ð Terakhir, Pepryanti. Gadis manis berhidung mancung yang punya selera humor luar biasa. Baginya tiada hari tanpa tertawa. Kami menyukainya meski terkadang dia bersikap aneh. Dia menyembunyikan semua bebannya melalui tawanya. Terkadang dia terlihat sangat ramah, menyenangkan, dan lembut. Namun, dalam sekejap dia bisa berubah terasa sangat jauh, menyebalkan, keras kepala, pesimis, dan minder. Seakan kami tak mengenalnya jika dia sudah bertingkah demikian. Dia jarang bercerita kepada kami tentang masalahnya, tepatnya kepadaku. Tapi dia sering bercerita kepada si pudan. Dia sangat dekat kepada si pudan. 

     Satu waktu, aku, dia dan si pudan duduk bersama di tepi kolam kampus (aku tak mengerti kenapa di katakan kolam tersebut lebih mirip dengan empang), dia berkata, ‘semua terasa berat, lebih baik aku mati saja!!’. Mendengar dia mengatakan hal tersebut, aku marah. Aku benci mendengar nada pesimis darinya.

‘kau mau mati?! Mati saja sana! Tenang aja, nanti kami patungan beli peti mati mu. Sudah, mati saja sana!!!’
Dia terdiam. Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku tak tega melihatnya.

Sipudan dengan lembut menjawabnya, ‘kak,, tidak boleh bicara begitu. Tiap masalah ada jalan keluarnya. Ceritalah sama kami.’

Aku terdiam menunggu jawabannya.

‘mama ku sering marah-marah padaku. Keluarga kami lagi banyak masalah dan aku mungkin sudah tidak bisa kuliah lagi.’ Ujarnya pelan. ‘aku capek, mungkin mati lebih baik. Aku jadi tidak merasakan apapun lagi nantinya.’

‘mati mungkin tidak merasakan apa-apa lagi, namun pernah tidak kamu memikirkan bagaimana persaan orang yang kamu tinggalkan? Bagaimana perasaan kami? tan, kedua tanganmu masih begitu lembut, belum banyak yang kamu kerjakan dan sadar tidak masih banyak hal berarti yang bisa dikerjakan oleh kedua tanganmu. Hidup memang sulit, tapi ya hadapi sajalah. Karena itulah hidup.’

Dia terdiam. Perbincangan kami terhenti kerena beberapa teman yang lain datang menghampiri.

2 bulan kurang lebih, dia sakit dan harus operasi. Ada sesuatu yang harus dia angkat dari perutnya. Daging yang yang sudah bersarang diperutnya yang membuatnya merasakan kesakitan yang teramat sangat.

Kami begitu khawatir. Saat hari operasi, kami menelepon ibunya. Kami mnedengar kabar bahwa semua berjalan dengan lancar dan semua terkendali dengan baik. Kami lega mendengarnya. Tuhan benar-benar adil.

Pemulihan demi pemulihan dan akhirnya dia sembuh. Tidak dialaminya lagi rasa sakit perut jahat itu. Namun, masalah baru datang. Putus kuliah. karena alasan ini dan itu yang sedikit rumit. Teman-teman mengantarnya. Tapi aku tidak. Dengan alasan ini itu, aku tidak mengantarnya. Sebenarnya, aku benci perpisahan.

Di batam dia bekerja. Waktu berlalu dengan cepat. Kami tetap berkomunikasi, meski terkadang dia terasa sangat menyebalkan karena terlalu cuek. Terkadang dia meneleponku, dan kami bercerita-cerita hingga rasa rindu terobati. Dia bercerita, tertawa dan bernyanyi. Terkadang dia menyuruhku bernyanyi.

Satu hari, hari jumat sore, awal desember 2012 dia meneleponku. Saat itu aku sedang kebersihan di rumah. Dengan menggunakan headset, aku bekerja sambil berbicara dengannya.

‘tan, gman kabarmu?’
‘baik donk…. Kamu gimana?’
‘baik juga, Cuma kantongku gak baik’
‘akh, itu mah udah takdir elu kaleeee …’ ledeknya, dan aku tertawa.
‘gimana tan, kapan pulang?’
‘doain ajalah tahun depan aku pulang. Sekalian bawa si dia.’
‘wahhhh,,, mantap tuh tan. Eh tan, nanti kalo pulang, traktir kami makan mie ayam ya….’
‘tenang aja, jangankan mie ayam, sekalian sama penjualnya kita beli.’
‘hahahahahha benar ya, tan?’
‘iya,,,, tenang aja. Kita jalan-jalan sampai pegal. Nanti ku belikan baju kaos dari sini. Tapi yang murah aja ya, biar uangnya cukup.’ Janji nya padaku.
‘wuihhhh, makasih loh tan… baik dech..’
        ‘eh, nyanyi dulu…’ pintanya padaku.
        ‘ahhh, lagi serak suaraku. Tan lah yang nyanyi….’ Ujarku

      Dia bernyanyi, bercerita dan tertawa. Dia berjanji akan         pulang pada natal tahun depan. Satu jam lebih kami bercerita, dan dia harus menutup teleponnya karena aku memintanya.

Selasa sore aku pulang dari kampus bersama dengan si pudan. Aku turun di pasar bersama pudan dan menunggu seseorang datang menjemputku. Hujan yang menguyur pasar membuat ku dan pudan berteduh di emperan toko. Kami berdiri seperti tunawisma yang kebingungan akan tidur dimana mala mini sementara gigi gemelutuk dan bibir bergetar kerena kedinginan. Saat situasi sangat tidak enak, sebuah mobil truk berisikan bahan bangunan berhenti tepat di hadapan kami dan para pekerjanya menggoda kami, seakan kami adalah anak kecil yang bisa mereka ledek sepuasnya. Aku dengan wajah sewot tak peduli, namun sipudan malah bisa bercanda seenaknya. Dia memang ramah pada siapapun. Aku heran dengan sifatnya yang satu ini. Tiba-tiba telepon pudan barbering.

‘pesta memanggil’
‘hallo kak,,,’
‘apa??? Gak kedengaran suaramu kak. Ujan disini.’
‘Halooooo….’
‘ee,, iya,, udah kedengaran. Apa kak?? Aaa…. Aaa???
Kakak bohongkan??? Bilang kakak bohong.!! Gak betul itu kak. Dia gak boleh meninggal.” Jerit si pudan sambil memelukku tiba-tiba. 

Aku terkejut mendengar kata-katanya yang terakhir. Meninggal?? Siapa??? Itu yang adda di benakku. Baiklahhh, aku pun memelukknya, mengusap kepalanya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Teleponnya di matikan. Sipudan menangis keras.

‘hei,, siapa yang meninggal…?’ Tanyaku penasaran
‘kak ty,,, si pep meninggal kata kak pesta.’ Dan seketika itu juga pecahlah tangisnya si pudan. 

WHATTT????!!!!!
Meninggal?

Hallowww,,, dia baru saja meneleponku hari jumat kemarin. Ini tidak lucu. Sungguh tidak lucu.
‘kamu yakin dek kalau mereka tidak sedang bercanda? Kamu tahukan pep dan pesta itu becandanya ampun-ampunan. Coba telepon pep sekarang.’ Ujarku sambil menyangkal semua berita itu.
‘oke kak… ‘
Krrrrrrrrrrr…….
‘hallo…, tulang? Ini landis, pepry ada?
……
‘serius dulu tulang….’
….
Tuuuutttttttttt….!!!
‘kak,,, itu semua gak bohong kak… papanya pep lagi ngurus administrasi bandara biar bisa bawa kak pep kesini.’
Sejenak ku tertegun. Tuhan, mimpikah ini? Aku menggigit bibirku. Terasa sakit. Ini tidak mimpi. Aku hanya bisa memeluk sipudan dan sambil berkata bahwa itu semua bohong.
Waktu berlalu terasa lambat. Aku bahkan sudah tidak mengingat lagi bahwa tujuanku sebenarnya adalah untuk menunggu seseorang untuk menjemputku.

Sebuah pesan masuk ke ponselku.
ð ‘sudah dimana posisinya,dek?’
ü Di depan toko bangunan.
ð ‘tunggulah. Aku sudah mau sampai.
ü Okkk….

Aku dan si pudan bingung harus berbuat apa. Kami hanya bisa saling memeluk dan menangis. Kami sudah tidak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang melihat tingkah kami. Beberapa pria mencoba menggoda dan mengejek kami, tak kami gubris sedikit pun.

Abang datang. Wajahnya penuh keheranan.
‘ada apa?’ Tanyanya.
‘teman kami meninggal.’ Jawab ku pelan.
‘jadi kalian mau melayat ketempatnya?’
‘tidak tahu, jenazahnya belum sampai. Masih di batam. Mungkin besok pagi baru sampai.’
‘ya sudah, pulang saja dulu. Besok baru kita kesana. Ini sudah malam.’
Setelah diskusi sejenak dengan sipudan, akhirnya kami pulang. Aku tidak tahu apakah si pudan langsung ke rumah pep atau tidak. Mungkin dia langsung kesana. Aku yakin itu.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa bersandar di punggung abang. Semua tangisku tumpah di punggungnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Semua kenangan, cerita, pertengkaran, emosi, canda tawa, nyanyian yang sering kami nyanyikan bersama, bahkan suaranya saat dia berbicara denganku ditelepon dihari jumat kemarin masih terasa sangat nyata. Tawa nya yang penuh semangat saat dia bercerita tentang pengalamannya bekerja di Batam. Aku hanya bisa menangis mengingat semua itu. Dalam hatiku aku masih menyangkal semua itu.

Setiba dirumah aku menumpahkan tangisku. Di kamar aku menangis sejadi-jadinya. Di dinding aku melihat ada fotonya. Senyumnya terlihat seperti mengejekku. Aku melempar fotonya dengan bantal.

Menyebalkan. Masih bisa kau tersenyum sementara aku menangisi kematianmu???

Abang datang dan menghiburku.
‘mau menangis sampai kapan? Dia tidak akan bangun lagi meski kamu tangisi sampai suara serak dan kamu sakit. Ikhlaskanlah dia. Dia sudah tenang disana.’

Aku diam, kelelahan dan tertidur.
Keesokan harinya kami berkumpul dan menyiapkan karangan bunga, sebuah tulisan yang kubuat kami selipkan di karangan bunga tersebut. Tidak ikhlas, tapi kami harus melepaskannya. Terasa tidak adil, tapi inilah kehidupan. Yang pergi harus di relakan, dan yang tetap tinggal itu berarti masih harus terus berjuang di dunia yang fana ini.

Kami tiba di rumah pepry saat hujan turun. Dalam hati kuberbisik,’alam pun menangis...’

Tak sanggup aku melihat jasadnya yang terbujur kaku di ruang tamu rummahnya. Aku ingat beberapa waktu lalu saat dia baru selesai operasi saat dia pulang dari Medan dia terbaring di tempat yang sama saat kami mengunjunginya. Hanya bedanya saat itu dia tertawa menyambut kami dan saat ini dia diam saja. Tak ada suara riang darinya, tidak ada senyum manisnya yang menyambut kami. Saat ini hanya suara tangis mamanya yang menyambut kedatangan kami dengan beberapa suara ibu-ibu yang berbisik-bisik saat melihat kami datang.

Kami dipersilahkan untuk membuat acara. Sepanjang acara kami hanya bisa menangis. Kusentuh tangannya. Dingin dan kaku. Tak sehangat dan selembut dulu. Berbeda. Dingin. Dan kaku.

Kali ini aku pun kembali tak bisa menghantarnya pergi. Di pertengahan acara aku harus pulang. Opung mau berangkat liburan hari ini dan aku harus menghantarnya. Dalam hatiku aku membatin’ bahkan untuk terakhir kalinya pun aku tak bisa menghantarnya. 

Aku bersyukur ada alasan untuk pergi. Karena aku benci perpisahan. Aku tidak mau melihat semua hal menyebalkan itu. Biarlah, biarlah begitu. Selamat jalan sahabat. Kami tetap mengasihimu.

Biarlah kami sahabatmu yang masih berkelana di bumi fana ini di limpahi tawa. Kami akan mengenangmu dalam tiap tawa kami. Dalam setiap doa kami. Terima kasih untuk waktu yang sangat singkatyang telah kita lewati bersama. Suatu hari nanti kita akan berkumpul kembali dalam keabadian si rumah yang kekal.


(sahabat ini Maret lho,,, bulan kelahiranmu. aku masih mengingatnya. kau tahu, kami masih tetap merindukan mu)







Selamat Jalan Gadis Ayu-ku

 AYU P


In memoriam, Ayu P. Melihat kalimat nan singkat tersebut membuat seluruh akalku serasa lumpuh, daya pikirku seakan mati, nafasku serasa terhenti, tubuhku terasa mati rasa. Rasa perih yang tak dapat ku ungkapkan dengan rangkaian kata-kata.

 Batinku menjerit, Tuhan, mengapa harus dia yang ku cintai yang pergi? Mengapa begitu cepat dia Kau panggil? Cinta kami yang belum berlabuh dipelaminan. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Mengapaaaaaaa???? Apa dosanya? Apa salahnya?

Beratus ucap duka, beribu lantunan doa yang di lantunkan, tak dapat menghibur rasa sakit ini. Aku terdiam dalam berjuta keributan. Melihatnya terbaring kaku, dengan seulas senyum di wajahnya membuatku marah.

‘kau pergi meninggalkanku, dan kau masih bisa tersenyum?’ desisku.

Ayu,,, gadis yang kukenal ini benar-benar seayu namanya. Entah bagaimana aku bisa jatuh hati padanya, semua berjalan begitu saja dan kami menjalin hubungan. Yah,,, dia memang tak seiman denganku. Tapi respon yang baik dari keluarganya membuatku percaya diri untuk terus bersamanya.

Sahabatku, oh tidak, tepatnya kekasihku. Itulah dia. Dia menjadi segalanya bagiku. Disaat ku penat dengan berbagai tuntutan kehidupanku, senyum tulusnya menguatkanku. Disaat ku terpuruk karena kelalaianku, tangan kecilnya yang lembut menarikku keluar dari jurang kelam. Ketika emosi memenuhiku, suaranya yang syahdu meredam amarah. Ketika ku tertawa, tanpa berbangga diri ia mendampingiku dan mengingatkanku.

Lemah gemulai perilakunya, lembut manis tutur katanya, tulus tindak tanduknya membuatku benar-benar terpesona. Dia menjadi kekasih, sahabat, teman diskusi, tempat berbagi, dia benar-benar menjadi segalanya bagiku. Oh, Tuhan sempurnanya dia.

Terkadang tak jarang aku menggodanya, membuatnya tersipu, dan aku terkekeh melihat sosoknya yang polos. Rambut panjangnya yang tergerai, benar-benar melukiskan sosok keibuan.

Kebiasaan untuk menghabiskan sore bersama adalah hal yang menyenangkan bagi kami. Dengan penampilan apa adanya ia keluar dari rumahnya, menemuiku yang sedari tadi telah menunggunya. Rambutnya yang di gulung, memberi kesan rapi membuatku terpesona. Ah,ayu,,, ayu,,, aku begitu menyukaimu.

Waktu berlalu, seiring waktu ibarat bunga, cinta yang terus bersemi. Tak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa takdir akan berkata lain. Ayu yang ku kenal begitu kuat, tiba-tiba terlihat begitu lemah. Kesehatannya memburuk. Tak ada yang tahu bagaimana awalnya. Hingga akhirnya sebuah vonis dari dokter yang mengatakan waktu ayu hanya terhitung bulan karena kanker.

Detik itu hati ini menjerit dan memohon keadilan dari Tuhan, menuntut Tuhan atas apa yang terjadi. Namun seolah Tuhan tak mendengar, seakan Tuhan tak peduli, Tuhan benar-benar memanggil Ayu ku. Ya,, Tuhan memanggil Ayu ku yang ku kasihi. Aku menuntut kepada Tuhan, namun Tuhan seakan tak mau menjawab.

Tak ada yang menginginkan kehilangan orang terkasih, namun tak ada yang dapat melawan kehendakNYA. Kehilangannya tak membuatku lekas melupakannya. Ayu hidup di hatiku. Menempati salah satu tempat istimewa di hatiku. Bagiku dia tidak mati, bagiku dia hanya pergi ke suatu tempat dan sedang tersenyum memandangku saat ini. Ia kini di rumah yang nyaman dan hangat, tidak lagi dia rasakan rasa sakit karena kanker. Dia telah mendapatkan tubuh yang baru, yang tidak ada rasa sakitnya.

Aku percaya dia tidak benar-benar meninggalkanku. Dia masih sering menemuiku, mengingatkanku, menemaniku seperti dia masih di sisiku. Suaranya, tawanya, dan tingkah lakunya masih terasa segar dalam ingatanku. Selamat jalan kekasih. Terima kasih untuk cinta tulusmu padaku.

(Sumbangsih cerita dari seorang sahabat yang bersedia kisah kasihnya di ikutsertakan sebagai inspirasi bagi setiap orang yang ingin memahami apa itu kasih yang sesungguhnya.)







PAPA

(memori Desember 2011)

Ketika aku masih kecil, aku terbiasa bergelanyutan di pundak papa. Tak ada tempat senyaman dan sehangat pundak papa. Papa begitu kuat, hebat, dan bisa melakukan apapun dan memberikan apapun yang kuminta. Aku masih ingat sebuah boneka yang kuberi nama ‘susan’ adalah hadiah kesekian dari papa untukku. Aku mendapatkannya dengan merengek sepanjang hari kepada mamaku, namun mama tak mau membelikanya untukku. Dan pada malam hari ketika papa datang, aku menghambur dalam pelukan papa dan meminta boneka. Dan dengan santai papa berkata,’papa akan memberikannya untukmu, tapi apa yang bisa kamu janjikan untuk papa?’

Wajah kecilku tersenyum cerah, bola mataku berbinar dan aku berkata,’aku akan jadi juara dalam hal apapun dan papa tidak akan kecewa padaku.’

‘baiklah, ayo kita pergi sebelum bonekanya di beli orang lain.’ Ujar papa bersemangat sambil menghidupkan mesin motor dan aku melonjak kegirangan. Lihat, papa ku selalu memberi segalanya bukan? Batinku dalam hati.

Malam itu juga aku mendapatkan apa yang ku mau dengan bonus ice cream coklat kacang kesukaanku. Papa ku adalah segalanya.
Waktu demi waktu berlalu, aku benar-benar menepati janjiku pada papa. Juara kelas, aktif kegiatan apapun, bahkan tak jarang aku menjadi utusan sekolah untuk pergi keluar kota atau kemana pun karena aku berprestasi, dan papa selalu memujiku dan membanggakanku dihadapan teman-temannya. Bagi papa, aku adalah putri kesayangannya, harta berharganya, emasnya yang berkilauan.

Waktu pun bergulir, aku pergi meninggalkan papa. Aku tahu sakit hati papa karena aku pergi, dan aku mulai menyadari bahwa aku akan kehilangan sosok papa yang memanjakanku karena jarak yang begitu jauh. Perlahan aku kehilangan rasa dekat dengan papa. Aku lebih sering menuntut kepada papa, aku selalu marah dan mengatakan papa tak menyayangiku. Aku lepas kendali, aku kehilangan sosok papaku yang hebat. Aku menyalahkan keadaan, aku marah kepada papa.

Waktu semakin menjauhkanku dari papa. Tujuh tahun kemudian, aku kembali kerumah, bertemu papa. Aku datang sebagai sosok mahasiswi, calon guru. Papa memelukku erat saat menjemputku di bandara. Papa tak melepaskan tanganku, papa membawakan semua tasku dan aku benar-benar layaknya seorang anak kecil. Rasa bahagia menyelimuti hatiku. Aku bergelanyutan manja di lengan papa.

Di taksi, dengan bangga papa bercerita kepada sopir, bahwa aku adalah putri kesayangannya yang pintar dan luar biasa. Perlahan airmata menetes dipipiku. Tanpa sadar aku melihat kaki papa yang hanya mengenakan sandal sederhana, aku terhenyak. Ada luka yang membengkak di pergelangan kaki papa. Aku kembali memperhatikan lengan papaku ternyata juga ada luka yang mulai mengering namun berwarna biru lebam dan bengkak. Airmataku mengalir deras. Kuperhatikan sosok papaku, rambut yang mulai botak dan memutih, wajah kurus yang mulai sendu, namun senyum dan tawanya masih seperti dulu. Pundak yang dulunya tempatku menangis dan bermanja ria, kini mulai terlihat membungkuk.

Lengan yang dulu selalu menggendongku, kini merangkulku dengan penuh kasih. Sepanjang perjalanan aku tertidur dipundak papa.
Sesaat aku merasakan kedamaian yang sempat hilang namun aku yakin suatu saat nanti aku juga pasti akan benar-benar kehilangan.

 Namun, jika aku boleh meminta, jangan pernah tinggalkan aku papa. Sejauh apapun putri kecilmu ini melangkah, putrimu yang manja ini akan kembali lagi padamu, karena sampai kapanpun aku akan tetap menjadi seorang anak kecil yang manja di hadapan papa.

Papa, aku mencintaimu dan terimakasih papa, teruslah berdoa untukku, karena aku pasti akan pulang.


KISAH DIDALAM ANGKOT

(memori saat perjalanan menuju kampus di masa kuliah)


Hari kamis saya pergi kekampus. Setelah menunggu seperempat jam, akhirnya ada angkot yang lewat untuk saya tumpangi. Didalam angkot hanya ada saya sendiri. Setelah berjalan sekitar 5 menit, seorang ibu naik keangkot sambil memasukkan sekarung besar yang berisi kopi yang hendak dijualnya.

Sambil tersenyum ibu tersebut duduk di samping saya. Usianya kira-kira setengah baya. Dengan dandanan yang sangat sederhana, ia terlihat cantik dan rapi. Karena merasa ibu tersebut cukup ramah saya pun menyapanya, walaupun setelah saya sadari sapaan saya sangat basi (saya tidak pintar berinteraksi dengan orang yang baru saya kenal).

‘Na laho manggadis kopi do inang…?’ saya bertanya dalam bahasa Batak yang jika saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira seperti ini, ibu mau menjual kopi,ya..?.

Namun dengan ramah ibu tersebut menjawab, ’iya,,, puji Tuhan , kali ini kopi kami agak lumayan. Lumayan untuk ngirim sama anak.’

Saya tersenyum mendengar jawaban ibu tersebut. Selintas terkelebat bayangan mama saya yang pasti seperti ibu ini, bekerja, bekerja, dan bekerja hanya untuk sekolah kami.

‘Anak ibu sekolah dimana?’ Tanyaku tertarik

‘di Universitas *** , Jakarta, nak…’jawabnya bangga. 

Matanya bersinar tatkala kumenatapnya.

 ’Dia baru lulus SMA tahun ini. Sebelum dia lulus SMA dia sudah mengikuti ujian masuk universitas. Bahkan sebelum hasil kelulusan keluar, dia sudah diterima di Universitas itu dengan beasiswa penuh. Syukur sekali buat Tuhan, karena kalau saya yang biayain, pasti tidak sanggup. Kami tidak punya uang. Dia sangat pintar. Dari ketiga anakku, dia yang paling tua dan dia yang paling pintar. Sejak SD dia selalu juara 1 atau 2. Bahkan sampai dia SMK, prestasinya tak pernah menurun. Dibandingkan dengan adiknya yang nomor dua, pintar juga. Tapi belum pernah juara 1. Hanya sebatas juara 3. Dan yang paling buat ku sedih, adiknya yang bungsu. Tahun ini dia tinggal kelas.’ Tutur ibu tersebut. Sementara saya asyik mendengarkan ibu tersebut bercerita.


‘Mungkin yang ketiga masih beradaptasi di sekolah kali ya bu…?’ ujarku untuk sekedar menghibur hati ibu tersebut.


‘Tidak,,,. Itu mungkin salah saya juga nak…’kata ibu itu dengan wajah menyesal.

 ‘dulu, kami tinggal di Batam. Saya dan ayah anak-anak sama-sama bekerja. Kehidupan kami cukup, keuangan tercukupi. Saat saya hamil pertama, asupan gizi, makanan bernutrisi juga lancar. Pikiranku juga tenang saat itu. Kemudian saat hamil kedua keadaan kami mulai tidak baik, tapi  kehamilanku saat itu cukup baik meski tak seistimewa pelakuanku pada waktu aku hamil pertama. Kehidupan kami mulai susah. Dan pada saat kehamilan yang ketiga, aku dan suamiku di PHK. Maklumlah kami bekerja diperusahaan. Saat itu keadaan sangat tidak nyaman. Keuangan sulit, bahkan kami terpaksa pulang kampung. Saat itu aku mudah stress, menangis, marah dengan keadaan kami. Sampai-sampai aku tidak memperhatikan kesehatan anakku yang di kandungan. Asupan gizi pun kurang. Itulah yang buat anakku yang ketiga ini agak kurang dalam belajar. Kurang gizi waktu masa-masa kehamilanku. Kuakui itu salahku. Tapi, mau gimana lagi…’


‘jangan terlalu menyalahkan diri lah ibu….’ Ujarku. ‘pasti dia juga bisa pintar, tapi mungkin untuk bidang lain atau dia butuh waktu yang agak lama untuk mengerti pelajaran….’


‘iyalah,nak…’ jawab ibu tersebut. ’kami tidak pernah memarahinya meski dia tinggal kelas. Kami dukung dia. Bahkan kakaknya yang baru kuliah ini sayang sekali dengan adiknya yang ketiga ini. Si bungsu ini  penurut, suka mengalah, dia juga rajin. Cuma untuk belajar dia kurang. Ternyata Gizi sejak dini benar-benar berpengaruh…..’

Percakapan demi percakapan terus berlanjut hingga ibu itu turun dari angkot. 


Sendirian duduk diangkot, saya merenungkan makna gizi di balik cerita ibu tersebut. Gizi, itu berupa zat yang berguna bagi tubuh agar bisa tumbuh dengan sehat. Tapi, ada gizi yang lebih berkhasiat, yaitu kasih sayang, perhatian, pengertian, kepedulian, dan saling memahami dari keluarga kepada sesama anggota keluarga itu sendiri.