(memori Desember 2011)
Ketika aku
masih kecil, aku terbiasa bergelanyutan di pundak papa. Tak ada tempat senyaman
dan sehangat pundak papa. Papa begitu kuat, hebat, dan bisa melakukan apapun
dan memberikan apapun yang kuminta. Aku masih ingat sebuah boneka yang kuberi
nama ‘susan’ adalah hadiah kesekian dari papa untukku. Aku mendapatkannya
dengan merengek sepanjang hari kepada mamaku, namun mama tak mau membelikanya
untukku. Dan pada malam hari ketika papa datang, aku menghambur dalam pelukan
papa dan meminta boneka. Dan dengan santai papa berkata,’papa akan
memberikannya untukmu, tapi apa yang bisa kamu janjikan untuk papa?’
Wajah
kecilku tersenyum cerah, bola mataku berbinar dan aku berkata,’aku akan jadi
juara dalam hal apapun dan papa tidak akan kecewa padaku.’
‘baiklah,
ayo kita pergi sebelum bonekanya di beli orang lain.’ Ujar papa bersemangat
sambil menghidupkan mesin motor dan aku melonjak kegirangan. Lihat, papa ku
selalu memberi segalanya bukan? Batinku dalam hati.
Malam itu
juga aku mendapatkan apa yang ku mau dengan bonus ice cream coklat kacang
kesukaanku. Papa ku adalah segalanya.
Waktu
demi waktu berlalu, aku benar-benar menepati janjiku pada papa. Juara kelas,
aktif kegiatan apapun, bahkan tak jarang aku menjadi utusan sekolah untuk pergi
keluar kota atau kemana pun karena aku berprestasi, dan papa selalu memujiku
dan membanggakanku dihadapan teman-temannya. Bagi papa, aku adalah putri
kesayangannya, harta berharganya, emasnya yang berkilauan.
Waktu pun
bergulir, aku pergi meninggalkan papa. Aku tahu sakit hati papa karena aku
pergi, dan aku mulai menyadari bahwa aku akan kehilangan sosok papa yang
memanjakanku karena jarak yang begitu jauh. Perlahan aku kehilangan rasa dekat
dengan papa. Aku lebih sering menuntut kepada papa, aku selalu marah dan
mengatakan papa tak menyayangiku. Aku lepas kendali, aku kehilangan sosok papaku
yang hebat. Aku menyalahkan keadaan, aku marah kepada papa.
Waktu
semakin menjauhkanku dari papa. Tujuh tahun kemudian, aku kembali kerumah,
bertemu papa. Aku datang sebagai sosok mahasiswi, calon guru. Papa memelukku
erat saat menjemputku di bandara. Papa tak melepaskan tanganku, papa membawakan
semua tasku dan aku benar-benar layaknya seorang anak kecil. Rasa bahagia
menyelimuti hatiku. Aku bergelanyutan manja di lengan papa.
Di taksi,
dengan bangga papa bercerita kepada sopir, bahwa aku adalah putri kesayangannya
yang pintar dan luar biasa. Perlahan airmata menetes dipipiku. Tanpa sadar aku
melihat kaki papa yang hanya mengenakan sandal sederhana, aku terhenyak. Ada
luka yang membengkak di pergelangan kaki papa. Aku kembali memperhatikan lengan
papaku ternyata juga ada luka yang mulai mengering namun berwarna biru lebam
dan bengkak. Airmataku mengalir deras. Kuperhatikan sosok papaku, rambut yang
mulai botak dan memutih, wajah kurus yang mulai sendu, namun senyum dan tawanya
masih seperti dulu. Pundak yang dulunya tempatku menangis dan bermanja ria, kini
mulai terlihat membungkuk.
Lengan
yang dulu selalu menggendongku, kini merangkulku dengan penuh kasih. Sepanjang
perjalanan aku tertidur dipundak papa.
Sesaat
aku merasakan kedamaian yang sempat hilang namun aku yakin suatu saat nanti aku
juga pasti akan benar-benar kehilangan.
Namun, jika aku boleh meminta, jangan
pernah tinggalkan aku papa. Sejauh apapun putri kecilmu ini melangkah, putrimu
yang manja ini akan kembali lagi padamu, karena sampai kapanpun aku akan tetap
menjadi seorang anak kecil yang manja di hadapan papa.
Papa, aku
mencintaimu dan terimakasih papa, teruslah berdoa untukku, karena aku pasti
akan pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar