Rabu, 09 Maret 2016

PAPA

(memori Desember 2011)

Ketika aku masih kecil, aku terbiasa bergelanyutan di pundak papa. Tak ada tempat senyaman dan sehangat pundak papa. Papa begitu kuat, hebat, dan bisa melakukan apapun dan memberikan apapun yang kuminta. Aku masih ingat sebuah boneka yang kuberi nama ‘susan’ adalah hadiah kesekian dari papa untukku. Aku mendapatkannya dengan merengek sepanjang hari kepada mamaku, namun mama tak mau membelikanya untukku. Dan pada malam hari ketika papa datang, aku menghambur dalam pelukan papa dan meminta boneka. Dan dengan santai papa berkata,’papa akan memberikannya untukmu, tapi apa yang bisa kamu janjikan untuk papa?’

Wajah kecilku tersenyum cerah, bola mataku berbinar dan aku berkata,’aku akan jadi juara dalam hal apapun dan papa tidak akan kecewa padaku.’

‘baiklah, ayo kita pergi sebelum bonekanya di beli orang lain.’ Ujar papa bersemangat sambil menghidupkan mesin motor dan aku melonjak kegirangan. Lihat, papa ku selalu memberi segalanya bukan? Batinku dalam hati.

Malam itu juga aku mendapatkan apa yang ku mau dengan bonus ice cream coklat kacang kesukaanku. Papa ku adalah segalanya.
Waktu demi waktu berlalu, aku benar-benar menepati janjiku pada papa. Juara kelas, aktif kegiatan apapun, bahkan tak jarang aku menjadi utusan sekolah untuk pergi keluar kota atau kemana pun karena aku berprestasi, dan papa selalu memujiku dan membanggakanku dihadapan teman-temannya. Bagi papa, aku adalah putri kesayangannya, harta berharganya, emasnya yang berkilauan.

Waktu pun bergulir, aku pergi meninggalkan papa. Aku tahu sakit hati papa karena aku pergi, dan aku mulai menyadari bahwa aku akan kehilangan sosok papa yang memanjakanku karena jarak yang begitu jauh. Perlahan aku kehilangan rasa dekat dengan papa. Aku lebih sering menuntut kepada papa, aku selalu marah dan mengatakan papa tak menyayangiku. Aku lepas kendali, aku kehilangan sosok papaku yang hebat. Aku menyalahkan keadaan, aku marah kepada papa.

Waktu semakin menjauhkanku dari papa. Tujuh tahun kemudian, aku kembali kerumah, bertemu papa. Aku datang sebagai sosok mahasiswi, calon guru. Papa memelukku erat saat menjemputku di bandara. Papa tak melepaskan tanganku, papa membawakan semua tasku dan aku benar-benar layaknya seorang anak kecil. Rasa bahagia menyelimuti hatiku. Aku bergelanyutan manja di lengan papa.

Di taksi, dengan bangga papa bercerita kepada sopir, bahwa aku adalah putri kesayangannya yang pintar dan luar biasa. Perlahan airmata menetes dipipiku. Tanpa sadar aku melihat kaki papa yang hanya mengenakan sandal sederhana, aku terhenyak. Ada luka yang membengkak di pergelangan kaki papa. Aku kembali memperhatikan lengan papaku ternyata juga ada luka yang mulai mengering namun berwarna biru lebam dan bengkak. Airmataku mengalir deras. Kuperhatikan sosok papaku, rambut yang mulai botak dan memutih, wajah kurus yang mulai sendu, namun senyum dan tawanya masih seperti dulu. Pundak yang dulunya tempatku menangis dan bermanja ria, kini mulai terlihat membungkuk.

Lengan yang dulu selalu menggendongku, kini merangkulku dengan penuh kasih. Sepanjang perjalanan aku tertidur dipundak papa.
Sesaat aku merasakan kedamaian yang sempat hilang namun aku yakin suatu saat nanti aku juga pasti akan benar-benar kehilangan.

 Namun, jika aku boleh meminta, jangan pernah tinggalkan aku papa. Sejauh apapun putri kecilmu ini melangkah, putrimu yang manja ini akan kembali lagi padamu, karena sampai kapanpun aku akan tetap menjadi seorang anak kecil yang manja di hadapan papa.

Papa, aku mencintaimu dan terimakasih papa, teruslah berdoa untukku, karena aku pasti akan pulang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar