W I D L Y
"Karena inilah cara ku mencintaimu, dengan segala ketiadaanku, aku mencoba untuk menjadi ada"
Gadis masih saja
terduduk diam di pinggir jalanan yang basah dan becek itu. Sambil menekuk
lutut, ia terlihat tidak menghiraukan siapa pun orang yang lewat berseliweran
disekitarnya. Pandangan mata yang penuh tanya dari orang-orang yang lewat
disertai dengan keheranan. Wajar saja orang melihat dengan pandangan demikian.
Seorang Perempuan, dengan pakaian basah dan rambut yang tertata rapi namun
sudah terlihat lepek karena tetesan hujan yang terus mengguyurnya. Seolah tak
perduli dengan keadaan dirinya Gadis terus saja berdiam di pinggir jalan itu.
Aku mulai lelah menemaninya
di pinggir jalan ini. Kucoba untuk mengajaknya pergi ketempat lain untuk
berteduh tapi sepertinya ia tidak mengindahkan ajakanku. Atau mungkin karena ia
tidak mendengar suaraku. Atau mungkin juga ia tidak menyukaiku yang terus saja
menemaninya. Tapi aku tidak ingin membiarkannya sendirian.
Aku tidak ingin ia
ketakutan dalam kesendiriannya. Aku tahu ia selalu takut sendirian. Ia selalu
saja berada di tempat ramai karena ia takut kesepian. Ia juga takut gelap. Itu
sebabnya aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Aku harus selalu bersamanya.
Aku ikut duduk di sisi kanannya. Aku juga ikut menekuk lututku. Aku selalu
ingin ikut merasakan apa yang ia sedang rasakan. Aku memang selalu dan selalu
ingin bersamanya, menjaganya, dan ikut merasakan apa yang ia rasakan.
Aku mendengar derap
langkah seseorang. Ahh,, pria itu lagi. Mengapa pria itu selalu muncul dan
mengganggu kami. Pria itu selalu saja mengganggu Gadis-ku. Pria itu selalu saja
menjemput Gadis setiap pagi dan menghantarnya pergi entah ke kantor, ke mall
atau ke tempat rekreasi lainnya. Aku benci melihat pria itu selalu memegang
tangannya dan gadis selalu merangkulnya dengan wajah yang berseri. Bagiku pria
itu tidak baik, tidak menarik, tidak tulus, juga tidak setampan aku. Aku sangat
tampan. Baiklah, aku tidak sedang memuji diriku. Kuakui aku memang sangat
tampan. Aku memuji diriku sendiri bukan berarti aku termasuk seorang yang
narsistik. Tidak. Tapi memang kuakui aku sangat tampan.
Baiklah mungkin aku
terlalu memuji diriku sendiri. Tapi di bandingkan dengan pria itu, aku memang
jauh lebih baik. Aku tidak pernah membuat Gadis menangis. Aku tidak pernah
memarahi Gadis. Aku juga tidak pernah berkhianat dari Gadis. Aku setia kepada Gadis.
Aku mencintai Gadis. Sangat mencintai Gadis
hingga rasanya aku bisa merasakan rasa cinta itu mengalir disetiap aliran darah
di nadiku. Aku bisa merasakan cinta itu disetiap aliran oksigen di rongga
dadaku hinga menembus paru-paruku. Hatiku terus berdetak setiap saat aku melihat
bola mata Gadis yang coklat bulat dan besar. Mata indahnya selalu membuatku
terpesona. Senyum Gadis yang sangat indah dan ceria selalu membuat ku
berbahagia. Airmatanya selalu membuatku tidak bisa meninggalkannya sedetik pun.
Tapi meski ia sedang tertawa aku pun memang tidak pernah meninggalkannya.
Bahkan saat Gadis sedang bersama pria itu, aku pun tetap bersama Gadis.
“Gadis,,, aku mencarimu
seharian. Akhirnya aku menemukanmu disini. Marilah kita pulang. Aku tahu aku
salah. Aku menyesal. Aku mencarimu seharian untuk meminta maaf mu.” Ujar pria
itu.
Dua bulan yang lalu baru aku tahu siapa nama pria itu setelah sekian tahun
aku menemani Gadis. Aku memang tidak ingin mencari tahu. Tapi pada akhirnya aku
tahu. Namanya Samuel. Gadis selalu memanggilnya dengan sebutan Sam.
Kulihat Gadis
memeluknya. Menangis di pelukannya. Matanya bengkak. Samuel memeluknya sambil
mengusap kepalanya. Aku marah sekali. Samuel selalu membuat gadis menangis.
Samuel selalu membuat kesalahan dan Gadis selalu yang menangis. Lalu setelah Gadis
menangis, Samuel akan datang dan mengiba maaf pada Gadis. Gadis yang baik hati
selalu memaafkan sambil tersenyum bahagia. Aku tidak mengerti mengapa Gadis
selalu memaafkan Samuel.
Aku ingat kejadian beberapa minggu yang lalu, Samuel
lupa ulang tahun Gadis dan Samuel pergi berkencan dengan seorang wanita. Gadis
menangis hingga ia demam. Lalu setelah dua hari kemudian Samuel datang ke rumah
gadis dan berkata bahwa ia sangat menyesal dan berjanji tidak mengulangi
perbuatannya. Gadis memaafkannya. Beberapa waktu yang lalu pernah saat ulang
tahun pernikahan orang tua Gadis,Samuel jelas-jelas bertengkar dengan saudara
sepupu Gadis dan Samuel meninggalkan pesta begitu saja. Samuel juga pernah
dengan meninggalkan Gadis begitu saja lalu membawa seorang wanita saat mereka
sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan.
Aku tidak tahu mengapa
Gadis memaafkan Samuel. Gadis selalu memaafkan semua kesalahan samuel. Bahkan
gadis tidak pernah mau merasakan bahwa aku bersedih untuknya. Setiap hari aku
berdoa Gadis mau mendengarku meski hanya untuk sekali saja.
Seperti tadi pagi, Samuel menghancurkan semua yang sudah di kerjakan Gadis selama seminggu. Gadis seorang arsitek muda terbaik. Sudah berapa hotel dan pusat perbelanjaan berdiri dengan megah.
Semua itu Gadis yang merancangnya. Aku suka melihat Gadis saat ia bekerja
wajahnya terlihat damai, senyumnya merekah saat ia menyelesaikan pekerjaannya,
tidak jarang ia juga bergadang hingga pagi saat bekerja. Wajah damainya
terlihat indah saat ia tidur seusai bekerja. Wajah letihnya seperti malaikat
tercantik disurga.
Tadi pagi, Samuel
merusak pekerjaan gadis saat samuel menjemputnya dirumah saat akan pergi bekerja.
Samuel merobek kertas-kertas yang ada di tas Gadis lalu meninggalkannya pergi
begitu saja. Aku tidak mengerti mengapa Samuel selalu marah kepada gadis. Aku
juga tidak mengerti mengapa Gadis selalu saja memaafkannya. Aku tidak mengerti.
Yang aku mengerti hanya satu, yaitu aku sangat mencintai Gadis.
Kulihat Gadis dan Samuel
sudah pergi. Samuel pasti mengantar Gadis pulang. Baiklah, aku akan menunggu
gadis di rumah. Tidak!! Aku ingin ikut Gadis. Aku tidak mau meninggalkannya.
Meski aku benci Samuel, tapi aku akan ikut dengan Gadis.
Aku mengikuti mereka.
Kulihat sepanjang perjalanan Gadis terlihat tersenyum. Sesekali ia kulihat
tertawa. Wajahnya yang terlihat pucat karena hujan tidak ia pedulikan. Kulihat
ia mengenakan jaket samuel yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Jika aku jadi
Samuel, aku akan membawakan Gadis jaket yang sesuai ukurannya agar ia tidak
keberatan saat mengenakannya. Samuel memang tidak sebaik aku. Akulah yang
terbaik. Tapi gadis tidak tahu kalau aku mencintai dia.
Gadis tidak tahu bahwa
aku mengasihi dia melebihi Samuel. Melebihi siapa pun. Tapi gadis tidak pernah tahu.
Baiklah, kuakui aku memang tidak pernah memberi tahu gadis tentang perasaanku.
Mungkin juga gadis tidak mengenalku. Tapi aku merasa sangat dekat dan sangat
mengenal gadis. Mungkin karena gadis belum melihatku.
Atau, ahh entahlah.
Biarlah aku saja yang mencintai. Mencintai tanpa dicintai. Memperhatikan tanpa
di perhatikan. Menyayangi tanpa disayangi. Menjaga tanpa harus dijaga.
Mengikuti tanpa harus diikuti. Aku tidak tahu sampai kapan aku mencintai Gadis
dengan cara begini. Aku hanya ingin terus dan terus mencintai gadis. Itu saja.
Gadis sudah sampai di
rumah. Kulihat Samuel mengecup lembut kening gadis. Ingin sekali aku berteriak,
menghalangi, atau mungkin ingin sekali aku memukul samuel. Tapi aku tidak
berdaya. Gadis mencintai Samuel tidak peduli seburuk apapun perlakuan samuel.
Kulihat Gadis sudah tidak menangis lagi. Tawa manisnya sudah mengambang di
wajah manisnya. Kulihat binar matanya. Biarlah. Selama aku bisa melihat wajah
bahagianya aku mengijinkan samuel mengecup kening Gadis, memeluk Gadis atau menemani
Gadis kemana saja. Apa pun untuk kebahagiaan Gadis.
Samuel sudah pergi.
Sekarang hanya aku dan Gadis di rumah. Tidak ada sesiapa pun disini. Sejak
setahun yang lalu gadis memutuskan untuk tinggal sendirian di rumah yang ia
beli sendiri. Orang tuanya sungguh orangtua yang sangat demokratis. Menerima
setiap pendapat Gadis dengan diskusi dan pertimbangan. Aku jadi ingat ayah dan
ibu ku yang dulu juga sangat mencintaiku. Tidak hanya dulu. Hingga detik ini
mereka juga masih mencintaiku. Ah, nanti aku akan menjenguk mereka jika Gadis
sudah tidur. Aku merindukan ibu. Aku yakin ibu masih mengenakan kaos bola
kesayanganku. Ibu ku wanita cantik yang penuh dengan kelembutan. Gadis sangat
mirip dengan ibuku. Mungkin karena gadis sangat mirip dengan ibu jadi aku
sangat mencintai Gadis.
Kulihat Gadis membuat
susu coklat panas. Rambutnya yang basah di urainya. Dengan piyama biru
kesukaannya, ia duduk di depan televisi dan mulai mencari-cari channel
kesukaannya. Kulihat wajah damainya. Aku melihat ada yang berbeda dengan gadis
akhir-akhir ini. Ia terlihat sedikit kurus. Aku duduk disampingnya. Kusandarkan
punggungku ke sandaran sofa dengan perlahan, aku tidak ingin gadis menyadari
kehadiranku. Aku tidak ingin mengganggunya. Kulihat gadis meminum susu
coklatnya, lalu ia mulai mengacuhkan telivisi yang sedang menayangkan beberapa
acara lucu yang sedang tren saat ini.
Kuperhatikan Gadis yang
mulai melamun dan menerawang. Tatapannya kosong. Aku selalu takut melihatnya
saat begini. Saat Gadis sedang dalam pikiran kosong aku akan menjadi sangat berbahaya
baginya. Aku harus segera membuatnya sadar dari lamunannya yang sangat dalam.
Pikiran gadis tidak boleh kosong jika aku ingin terus bersama ia. Aku harus
melakukan sesuatu. Aku harus berbuat apa. Aku bisa berbuat apa. Hanya itu yang
ada di pikiranku saat ini.
Aku ingat. Aku
diizinkan ungtuk membuat sedikit kekacauan. Baiklah. Aku berjalan ke arah
televisi, dan membesarkan volume suaranya hingga maksimal. Kulihat gadis
tersentak. Ah, berhasil! Ingin sekali aku memeluk gadis saat kulihat ia kembali
pada pikirannya. Aku senang sekali. Kulihat gadis mengomeli dirinya sendiri.
Aku tersenyum melihat wajah manisnya yang cemberut saat mengomel. Gadis-ku yang
manis.
Aku ingat dulu saat aku
pertama kali melihatnya di halaman gereja. Entah mengapa sore itu gadis pergi
kegereja. Sangat ramai orang saat itu. Gaun hitam yang dipakainya saat itu
sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Aku tidak tahu saat itu siapa
namanya. Sampai aku melihat seorang wanita paruh baya memanggilnya Gadis. Namanya
unik menurutku. Kulihat ia masuk kedalam gereja. Aku benci hari itu namun aku
merasa sangat bahagia hari itu karena aku melihat gadis. Sejak saat itu, aku
selalu mengikuti gadis kemana pun ia pergi. Aku senang menghabiskan waktu
bersama gadis.
Ah, cerita tentang
masa-masa bersama Gadis sangat membahagiakan hatiku. Tapi sampai kapan aku
berbahagia seperti ini? Akankankah malaikat mengizinkan aku untuk terus
berbahagia. Aku benci setiap memikirkan ini. Kulihat gadis sudah beranjak
kekamarnya. Dia pasti ingin berdoa kemudian tidur. Aku hapal semua jadwalnya.
Gadis selalu disiplin. Meski ia sedang menangis karena perlakuan Samuel
terhadapnya, tidak pernah sekalipun ia lalai dengan jadwal yang sudah
diaturnya.
Terkadang kulihat ia berdoa sambil menangis, tak jarang juga kulihat
ia makan sambil terdiam membisu seperti mayat hidup. Aku ingin sekali
mengetahui isi hatinya. Ingin menyapanya sekali saja. Ingin memegang tangannya
meski hanya untuk sekali saja. Tapi aku tidak diizinkan. Aku benci dengan
peraturan itu semua. Aku tidak mengerti mengapa aku berbeda dengan Gadis. Aku
tidak mengerti mengapa Tuhan tidak membuat Gadis menjadi sama dengan ku agar
aku bisa mengatakan sesuatu sedikit saja kepada Gadis. Atau, aku tidak mengerti
mengapa Tuhan tidak membuatku menjadi sama seperti gadis.
Oh, sudah waktunya aku
menjenguk ibu dan ayah. Gadis pasti tidak keberatan aku pergi sebentar saat ia
sudah tidur pulas. Aku yakin tidak akan ada yang mengganggu Gadisku. Aku
berjalan menuju rumah orang tuaku. Kulihat masih ada lampu yang menyala di kamarku.
Ibu yang belum tidur. Kulihat ibu membuka buku-buku lamaku. Aku tidak mengerti
mengapa ibu selalu membaca buku-bukuku setiap malam. Sesekali kulihat ibu
membersihkan lemari atau kasurku. Aku tidak pernah lagi tidur di kasur itu tapi ibu selalu membersihkannya.
Aku benci melihat ibu selalu menangis setiap memeluk fotoku. Aku benci melihat
ibu selalu memakai baju bekasku yang sudah sangat usang karena ibu memakainya
setiap hari. Itu baju favoritku, itu sebabnya ibu selalu memakainya.
Ingin sekali aku
memeluk ibu. Tapi aku tidak diperbolehkan memeluk siapa pun. Sekali lagi aku
benci peraturan itu. Aku hanya boleh duduk di samping ibu saat ibu sudah tidur
sambil menyanyikan lagu gereja kesukaan ibu, ‘Amazing Grace’. Entah mengapa ibu selalu menyanyikan lagu itu. Jadi
kupikir ibu menyukai lagu itu.
Dua wanita cantik yang
kukasihi sudah istirahat malam ini. Aku harus pergi untuk bertanya sesuatu kepada
seseorang yang selalu mengawasiku. Biasa saat jam segini ia sedang berada di
altar gereja. Aku tidak mengerti mengapa ia selalu berada disana. Tapi biarlah,
itu lebih baik agar aku mudah menemukannya. Ia selalu menyuruhku menemuinya di jam
seperti ini. Aku selalu harus menuruti semua yang dikatakannya. Aku tidak bisa
melawannya. Tapi aku memang tidak berniat untuk melawannya. Ia sangat baik
padaku. Tapi aku sangat benci dengan semua peraturan yang di katakannya, entah
apapun itu alasannya.
Kutinggalkan ibu yang
sudah tertidur pulas.
Menyusuri jalanan di
pekatnya malam membuatku sedikit tenang. Sepi, tenang dan menenangkan. Jalanan
yang lengang, membuatku merasa didunia ku sendiri. Aku berteriak keras, tertawa
dan berlarian. Sejenak aku melupakan apapun. Jalanan yang sepi dan tenang
selalu membuatku merasa sangat bebas. Aku merasa bebas sebebasnya. Aku tidak
perlu khawatir ada Gadis yang akan mendengarku, walaupun aku berani bertaruh
dia tidak akan mendengarku. Atau aku tidak perlu khawatir ada ibu yang akan
terkejut mendengarku.
Disini, setiap malam, di jalan yang sepi dan tenang ini
aku bisa memerdekakan diriku. Aku bisa berteriak sekuat hatiku untuk meluapkan
betapa cemburu dan sakitnya hatiku karena Gadis sangat mencintai Samuel.
Dijalan ini aku juga bisa menangis karena aku sangat merindukan ibu. Di jalanan
ini juga aku meluapkan semua perasaan ku.
Ah,, itu gereja.
Kulihat lampu menyala di segala penjuru gereja. Aku ingat dua tahun yang lalu
aku bertemu Gadis di halaman gereja ini. Tepat di bawah pohon tua ini. Tepatnya
bukan bertemu, tapi aku melihat Gadis dan sejak itu aku terbiasa mengikutinya.
Dua tahun, selama itu. Tapi aku merasa semua berlalu begitu cepat. Atau aku
yang sudah mulai lupa bagaimana cara menghitung hari.
Tapi biarlah. Aku tidak
peduli dengan hari-hari. Aku hanya peduli pada Gadisku dan menjenguk ibu setiap malam. Itu saja.
Kulihat pria itu sedang
duduk di barisan depan gereja. Pakaian coklatnya selalu membuatku merinding.
Entah mengapa dia terlihat sangat agung.
Atau karena aku takut padanya sehingga
aku melihat dia sebagai orang agung. Tapi dialah pria yang sangat banyak
peraturan itu. Satu kali saja ia membuka mulutnya maka akan ada satu peraturan
atau peringatan yang akan muncul. Tapi dia baik. Ya cukup baik karena dia tidak
pernah melarangku untuk selalu bersama Gadis atau untuk menjenguk ibu.
“Aku datang...” sapa ku
padanya. Aku tidak tahu siapa namanya dan mengapa dia begitu berkuasa atasku.
Tapi dia baik. Sekali lagi kukatakan dia baik.
“Mengapa begitu lama?
Tahukah kamu tidak boleh terlambat?” jawabnya dingin tanpa memandang wajahku.
Aku hanya terdiam. Aku
tidak mau mejawabnya. Karena dia pasti sudah tahu mengapa. Aku hanya berdiri
mematung, sambil mendengarkan lonceng gereja yang berdentang. Tengah malam.
“Pergilah berdoa”
ujarnya sambil menutup matanya. Tubuh tingginya terlihat sangat kokoh,
bersandar di sandaran kursi gereja, wajahnya terlihat teduh. Kulihat keningnya
berkerut. Tidak seperti biasanya.
Aku menurut saja. Ada
satu bilik tempatku harus berdoa. Setiap malam. Sejak aku bertemu si pria tua
ini, setiap malam aku selalu berada disini, berdoa, berdoa, dan berdoa.
Terkadang ia menyuruhku bermain musik. Dan dengan senang hati aku menuruti
semua perintahnya. Aku tidak tahu siapa yang mengaturku untuk selalu bersama
dan menurutinya. Semua terjadi begitu saja. Aku tidak berani bertanya.
Doaku setiap malam
sederhana. Hanya bercerita tentang apa yang kulakukan setiap hari, dalam
ceritaku selalu hanya Gadis dan ibu yang kuceritakan. Aku menceritakan apa yang
di alami Gadis seharian. Aku menceritakan tentang Samuel yang jahat pada Gadis.
Aku menceritakan tentang ibu yang selalu menangis dan memakai baju kaosku yang
sudah kusam. Aku terdengar seperti pengadu. Tapi aku ingin menceritakan
semuanya dalam doaku. Aku tidak bermaksud mengadu. Aku hanya ingin menceritakan
semuanya. Aku tidak ingin ada yang tersembunyi dariNYA.
Aku ingat dulu si pria
tua pernah berkata, jika aku memiliki permohonnan, aku harus selalu jujur,
mengikuti semua peraturannya, dan selalu hadir menemuinya setiap malam di
gereja. Jadi, untuk itulah aku tidak mau melawan peraturannya. Aku memiliki
permohonan. Ya, permohonan.
“Kau sudah selesai
berdoa...?” pria tua itu datang dan menepuk pundak ku.
“Ya, Bapa. Saya sudah
selesai.” Jawabku.
“Sudah hampir waktunya
kamu kembali. Kamu akan segera pergi denganku. Tapi mengapa kamu masih saja
bersama Gadis dan ibumu?” wajahnya terlihat sangat keruh. Aku tidak mengerti
mengapa dia malam ini terlihat sangat sedih dan ada raut kemarahan di wajahnya.
“Pergi kemana? Aku
tidak mengerti.”
“Ya pergi denganku,
tidak berada disini. Karena disini bukan tempat yang tepat untukmu.”
“Aku tidak mengerti.
Aku cukup nyaman disini.”
Aku pergi meninggalkan
si pria tua yang masih duduk terpekur. Aku tiddak mengerti mengapa aku harus
selalu mengikuti perkataannya dan sekarang ia menyuruhku untuk pergi. Pergi
kemana? Dengannya? Tanpa Gadis dan ibu? Aku sudah cukup sengsara tidak bisa
berbicara dengan Gadis maupun ibu. Tidak boleh berbicara. Tidak boleh
menyentuh. Tidak boleh memberi tanda yang kentara bahwa aku ada. Tidak boleh
memukul Samuel walaupun sejujurnya aku sangan ingin menghantam wajahnya yang
selalu membuatku muak. Tidak boleh menyentuh Gadis, tidak boleh menggenggam
tangannya, tidak boleh menghapus airmatanya. Semua tidak, tidak dan tidak.
Ini semua terasa
membosankan,
BERSAMBUNG.........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar