Rabu, 09 Maret 2016

W.I.D.L.Y


W I D L Y
"Karena inilah cara ku mencintaimu, dengan segala ketiadaanku, aku mencoba untuk menjadi ada"

      Gadis masih saja terduduk diam di pinggir jalanan yang basah dan becek itu. Sambil menekuk lutut, ia terlihat tidak menghiraukan siapa pun orang yang lewat berseliweran disekitarnya. Pandangan mata yang penuh tanya dari orang-orang yang lewat disertai dengan keheranan. Wajar saja orang melihat dengan pandangan demikian. Seorang Perempuan, dengan pakaian basah dan rambut yang tertata rapi namun sudah terlihat lepek karena tetesan hujan yang terus mengguyurnya. Seolah tak perduli dengan keadaan dirinya Gadis terus saja berdiam di pinggir jalan itu.

     Aku mulai lelah menemaninya di pinggir jalan ini. Kucoba untuk mengajaknya pergi ketempat lain untuk berteduh tapi sepertinya ia tidak mengindahkan ajakanku. Atau mungkin karena ia tidak mendengar suaraku. Atau mungkin juga ia tidak menyukaiku yang terus saja menemaninya. Tapi aku tidak ingin membiarkannya sendirian. 

      Aku tidak ingin ia ketakutan dalam kesendiriannya. Aku tahu ia selalu takut sendirian. Ia selalu saja berada di tempat ramai karena ia takut kesepian. Ia juga takut gelap. Itu sebabnya aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Aku harus selalu bersamanya. Aku ikut duduk di sisi kanannya. Aku juga ikut menekuk lututku. Aku selalu ingin ikut merasakan apa yang ia sedang rasakan. Aku memang selalu dan selalu ingin bersamanya, menjaganya, dan ikut merasakan apa yang ia rasakan.

Aku mendengar derap langkah seseorang. Ahh,, pria itu lagi. Mengapa pria itu selalu muncul dan mengganggu kami. Pria itu selalu saja mengganggu Gadis-ku. Pria itu selalu saja menjemput Gadis setiap pagi dan menghantarnya pergi entah ke kantor, ke mall atau ke tempat rekreasi lainnya. Aku benci melihat pria itu selalu memegang tangannya dan gadis selalu merangkulnya dengan wajah yang berseri. Bagiku pria itu tidak baik, tidak menarik, tidak tulus, juga tidak setampan aku. Aku sangat tampan. Baiklah, aku tidak sedang memuji diriku. Kuakui aku memang sangat tampan. Aku memuji diriku sendiri bukan berarti aku termasuk seorang yang narsistik. Tidak. Tapi memang kuakui aku sangat tampan.

Baiklah mungkin aku terlalu memuji diriku sendiri. Tapi di bandingkan dengan pria itu, aku memang jauh lebih baik. Aku tidak pernah membuat Gadis menangis. Aku tidak pernah memarahi Gadis. Aku juga tidak pernah berkhianat dari Gadis. Aku setia kepada Gadis. Aku  mencintai Gadis. Sangat mencintai Gadis hingga rasanya aku bisa merasakan rasa cinta itu mengalir disetiap aliran darah di nadiku. Aku bisa merasakan cinta itu disetiap aliran oksigen di rongga dadaku hinga menembus paru-paruku. Hatiku terus berdetak setiap saat aku melihat bola mata Gadis yang coklat bulat dan besar. Mata indahnya selalu membuatku terpesona. Senyum Gadis yang sangat indah dan ceria selalu membuat ku berbahagia. Airmatanya selalu membuatku tidak bisa meninggalkannya sedetik pun. Tapi meski ia sedang tertawa aku pun memang tidak pernah meninggalkannya. Bahkan saat Gadis sedang bersama pria itu, aku pun tetap  bersama Gadis.


“Gadis,,, aku mencarimu seharian. Akhirnya aku menemukanmu disini. Marilah kita pulang. Aku tahu aku salah. Aku menyesal. Aku mencarimu seharian untuk meminta maaf mu.” Ujar pria itu. 

Dua bulan yang lalu baru aku tahu siapa nama pria itu setelah sekian tahun aku menemani Gadis. Aku memang tidak ingin mencari tahu. Tapi pada akhirnya aku tahu. Namanya Samuel. Gadis selalu memanggilnya dengan sebutan Sam.

Kulihat Gadis memeluknya. Menangis di pelukannya. Matanya bengkak. Samuel memeluknya sambil mengusap kepalanya. Aku marah sekali. Samuel selalu membuat gadis menangis. Samuel selalu membuat kesalahan dan Gadis selalu yang menangis. Lalu setelah Gadis menangis, Samuel akan datang dan mengiba maaf pada Gadis. Gadis yang baik hati selalu memaafkan sambil tersenyum bahagia. Aku tidak mengerti mengapa Gadis selalu memaafkan Samuel.

 Aku ingat kejadian beberapa minggu yang lalu, Samuel lupa ulang tahun Gadis dan Samuel pergi berkencan dengan seorang wanita. Gadis menangis hingga ia demam. Lalu setelah dua hari kemudian Samuel datang ke rumah gadis dan berkata bahwa ia sangat menyesal dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Gadis memaafkannya. Beberapa waktu yang lalu pernah saat ulang tahun pernikahan orang tua Gadis,Samuel jelas-jelas bertengkar dengan saudara sepupu Gadis dan Samuel meninggalkan pesta begitu saja. Samuel juga pernah dengan meninggalkan Gadis begitu saja lalu membawa seorang wanita saat mereka sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan.

Aku tidak tahu mengapa Gadis memaafkan Samuel. Gadis selalu memaafkan semua kesalahan samuel. Bahkan gadis tidak pernah mau merasakan bahwa aku bersedih untuknya. Setiap hari aku berdoa Gadis mau mendengarku meski hanya untuk sekali saja.

 Seperti tadi pagi, Samuel menghancurkan semua yang sudah di kerjakan Gadis selama seminggu. Gadis seorang arsitek muda terbaik. Sudah berapa hotel dan pusat perbelanjaan berdiri dengan megah. Semua itu Gadis yang merancangnya. Aku suka melihat Gadis saat ia bekerja wajahnya terlihat damai, senyumnya merekah saat ia menyelesaikan pekerjaannya, tidak jarang ia juga bergadang hingga pagi saat bekerja. Wajah damainya terlihat indah saat ia tidur seusai bekerja. Wajah letihnya seperti malaikat tercantik disurga. 

Tadi pagi, Samuel merusak pekerjaan gadis saat samuel menjemputnya dirumah saat akan pergi bekerja. Samuel merobek kertas-kertas yang ada di tas Gadis lalu meninggalkannya pergi begitu saja. Aku tidak mengerti mengapa Samuel selalu marah kepada gadis. Aku juga tidak mengerti mengapa Gadis selalu saja memaafkannya. Aku tidak mengerti. Yang aku mengerti hanya satu, yaitu aku sangat mencintai Gadis.

Kulihat Gadis dan Samuel sudah pergi. Samuel pasti mengantar Gadis pulang. Baiklah, aku akan menunggu gadis di rumah. Tidak!! Aku ingin ikut Gadis. Aku tidak mau meninggalkannya. Meski aku benci Samuel, tapi aku akan ikut dengan Gadis.

Aku mengikuti mereka. Kulihat sepanjang perjalanan Gadis terlihat tersenyum. Sesekali ia kulihat tertawa. Wajahnya yang terlihat pucat karena hujan tidak ia pedulikan. Kulihat ia mengenakan jaket samuel yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Jika aku jadi Samuel, aku akan membawakan Gadis jaket yang sesuai ukurannya agar ia tidak keberatan saat mengenakannya. Samuel memang tidak sebaik aku. Akulah yang terbaik. Tapi gadis tidak tahu kalau aku mencintai dia. 

Gadis tidak tahu bahwa aku mengasihi dia melebihi Samuel. Melebihi siapa pun. Tapi gadis tidak pernah tahu. Baiklah, kuakui aku memang tidak pernah memberi tahu gadis tentang perasaanku. Mungkin juga gadis tidak mengenalku. Tapi aku merasa sangat dekat dan sangat mengenal gadis. Mungkin karena gadis belum melihatku.

Atau, ahh entahlah. Biarlah aku saja yang mencintai. Mencintai tanpa dicintai. Memperhatikan tanpa di perhatikan. Menyayangi tanpa disayangi. Menjaga tanpa harus dijaga. Mengikuti tanpa harus diikuti. Aku tidak tahu sampai kapan aku mencintai Gadis dengan cara begini. Aku hanya ingin terus dan terus mencintai gadis. Itu saja.

Gadis sudah sampai di rumah. Kulihat Samuel mengecup lembut kening gadis. Ingin sekali aku berteriak, menghalangi, atau mungkin ingin sekali aku memukul samuel. Tapi aku tidak berdaya. Gadis mencintai Samuel tidak peduli seburuk apapun perlakuan samuel. Kulihat Gadis sudah tidak menangis lagi. Tawa manisnya sudah mengambang di wajah manisnya. Kulihat binar matanya. Biarlah. Selama aku bisa melihat wajah bahagianya aku mengijinkan samuel mengecup kening Gadis, memeluk Gadis atau menemani Gadis kemana saja. Apa pun untuk kebahagiaan Gadis.

Samuel sudah pergi. Sekarang hanya aku dan Gadis di rumah. Tidak ada sesiapa pun disini. Sejak setahun yang lalu gadis memutuskan untuk tinggal sendirian di rumah yang ia beli sendiri. Orang tuanya sungguh orangtua yang sangat demokratis. Menerima setiap pendapat Gadis dengan diskusi dan pertimbangan. Aku jadi ingat ayah dan ibu ku yang dulu juga sangat mencintaiku. Tidak hanya dulu. Hingga detik ini mereka juga masih mencintaiku. Ah, nanti aku akan menjenguk mereka jika Gadis sudah tidur. Aku merindukan ibu. Aku yakin ibu masih mengenakan kaos bola kesayanganku. Ibu ku wanita cantik yang penuh dengan kelembutan. Gadis sangat mirip dengan ibuku. Mungkin karena gadis sangat mirip dengan ibu jadi aku sangat mencintai Gadis.

Kulihat Gadis membuat susu coklat panas. Rambutnya yang basah di urainya. Dengan piyama biru kesukaannya, ia duduk di depan televisi dan mulai mencari-cari channel kesukaannya. Kulihat wajah damainya. Aku melihat ada yang berbeda dengan gadis akhir-akhir ini. Ia terlihat sedikit kurus. Aku duduk disampingnya. Kusandarkan punggungku ke sandaran sofa dengan perlahan, aku tidak ingin gadis menyadari kehadiranku. Aku tidak ingin mengganggunya. Kulihat gadis meminum susu coklatnya, lalu ia mulai mengacuhkan telivisi yang sedang menayangkan beberapa acara lucu yang sedang tren saat ini.

Kuperhatikan Gadis yang mulai melamun dan menerawang. Tatapannya kosong. Aku selalu takut melihatnya saat begini. Saat Gadis sedang dalam pikiran kosong aku akan menjadi sangat berbahaya baginya. Aku harus segera membuatnya sadar dari lamunannya yang sangat dalam. Pikiran gadis tidak boleh kosong jika aku ingin terus bersama ia. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus berbuat apa. Aku bisa berbuat apa. Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini.

Aku ingat. Aku diizinkan ungtuk membuat sedikit kekacauan. Baiklah. Aku berjalan ke arah televisi, dan membesarkan volume suaranya hingga maksimal. Kulihat gadis tersentak. Ah, berhasil! Ingin sekali aku memeluk gadis saat kulihat ia kembali pada pikirannya. Aku senang sekali. Kulihat gadis mengomeli dirinya sendiri. Aku tersenyum melihat wajah manisnya yang cemberut saat mengomel. Gadis-ku yang manis.

Aku ingat dulu saat aku pertama kali melihatnya di halaman gereja. Entah mengapa sore itu gadis pergi kegereja. Sangat ramai orang saat itu. Gaun hitam yang dipakainya saat itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Aku tidak tahu saat itu siapa namanya. Sampai aku melihat seorang wanita paruh baya memanggilnya Gadis. Namanya unik menurutku. Kulihat ia masuk kedalam gereja. Aku benci hari itu namun aku merasa sangat bahagia hari itu karena aku melihat gadis. Sejak saat itu, aku selalu mengikuti gadis kemana pun ia pergi. Aku senang menghabiskan waktu bersama gadis.

Ah, cerita tentang masa-masa bersama Gadis sangat membahagiakan hatiku. Tapi sampai kapan aku berbahagia seperti ini? Akankankah malaikat mengizinkan aku untuk terus berbahagia. Aku benci setiap memikirkan ini. Kulihat gadis sudah beranjak kekamarnya. Dia pasti ingin berdoa kemudian tidur. Aku hapal semua jadwalnya. Gadis selalu disiplin. Meski ia sedang menangis karena perlakuan Samuel terhadapnya, tidak pernah sekalipun ia lalai dengan jadwal yang sudah diaturnya.

Terkadang kulihat ia berdoa sambil menangis, tak jarang juga kulihat ia makan sambil terdiam membisu seperti mayat hidup. Aku ingin sekali mengetahui isi hatinya. Ingin menyapanya sekali saja. Ingin memegang tangannya meski hanya untuk sekali saja. Tapi aku tidak diizinkan. Aku benci dengan peraturan itu semua. Aku tidak mengerti mengapa aku berbeda dengan Gadis. Aku tidak mengerti mengapa Tuhan tidak membuat Gadis menjadi sama dengan ku agar aku bisa mengatakan sesuatu sedikit saja kepada Gadis. Atau, aku tidak mengerti mengapa Tuhan tidak membuatku menjadi sama seperti gadis.

Oh, sudah waktunya aku menjenguk ibu dan ayah. Gadis pasti tidak keberatan aku pergi sebentar saat ia sudah tidur pulas. Aku yakin tidak akan ada yang mengganggu Gadisku. Aku berjalan menuju rumah orang tuaku. Kulihat masih ada lampu yang menyala di kamarku. Ibu yang belum tidur. Kulihat ibu membuka buku-buku lamaku. Aku tidak mengerti mengapa ibu selalu membaca buku-bukuku setiap malam. Sesekali kulihat ibu membersihkan lemari atau kasurku. Aku tidak pernah  lagi tidur di kasur itu tapi ibu selalu membersihkannya. Aku benci melihat ibu selalu menangis setiap memeluk fotoku. Aku benci melihat ibu selalu memakai baju bekasku yang sudah sangat usang karena ibu memakainya setiap hari. Itu baju favoritku, itu sebabnya ibu selalu memakainya.

Ingin sekali aku memeluk ibu. Tapi aku tidak diperbolehkan memeluk siapa pun. Sekali lagi aku benci peraturan itu. Aku hanya boleh duduk di samping ibu saat ibu sudah tidur sambil menyanyikan lagu gereja kesukaan ibu, ‘Amazing Grace’. Entah mengapa ibu selalu menyanyikan lagu itu. Jadi kupikir ibu menyukai lagu itu.

Dua wanita cantik yang kukasihi sudah istirahat malam ini. Aku harus pergi untuk bertanya sesuatu kepada seseorang yang selalu mengawasiku. Biasa saat jam segini ia sedang berada di altar gereja. Aku tidak mengerti mengapa ia selalu berada disana. Tapi biarlah, itu lebih baik agar aku mudah menemukannya. Ia selalu menyuruhku menemuinya di jam seperti ini. Aku selalu harus menuruti semua yang dikatakannya. Aku tidak bisa melawannya. Tapi aku memang tidak berniat untuk melawannya. Ia sangat baik padaku. Tapi aku sangat benci dengan semua peraturan yang di katakannya, entah apapun itu alasannya.

Kutinggalkan ibu yang sudah tertidur pulas.

Menyusuri jalanan di pekatnya malam membuatku sedikit tenang. Sepi, tenang dan menenangkan. Jalanan yang lengang, membuatku merasa didunia ku sendiri. Aku berteriak keras, tertawa dan berlarian. Sejenak aku melupakan apapun. Jalanan yang sepi dan tenang selalu membuatku merasa sangat bebas. Aku merasa bebas sebebasnya. Aku tidak perlu khawatir ada Gadis yang akan mendengarku, walaupun aku berani bertaruh dia tidak akan mendengarku. Atau aku tidak perlu khawatir ada ibu yang akan terkejut mendengarku. 

Disini, setiap malam, di jalan yang sepi dan tenang ini aku bisa memerdekakan diriku. Aku bisa berteriak sekuat hatiku untuk meluapkan betapa cemburu dan sakitnya hatiku karena Gadis sangat mencintai Samuel. Dijalan ini aku juga bisa menangis karena aku sangat merindukan ibu. Di jalanan ini juga aku meluapkan semua perasaan ku.

Ah,, itu gereja. Kulihat lampu menyala di segala penjuru gereja. Aku ingat dua tahun yang lalu aku bertemu Gadis di halaman gereja ini. Tepat di bawah pohon tua ini. Tepatnya bukan bertemu, tapi aku melihat Gadis dan sejak itu aku terbiasa mengikutinya. Dua tahun, selama itu. Tapi aku merasa semua berlalu begitu cepat. Atau aku yang sudah mulai lupa bagaimana cara menghitung hari. 

Tapi biarlah. Aku tidak peduli dengan hari-hari. Aku hanya peduli pada Gadisku dan menjenguk ibu setiap  malam. Itu saja.
Kulihat pria itu sedang duduk di barisan depan gereja. Pakaian coklatnya selalu membuatku merinding. Entah mengapa dia terlihat sangat agung. 

Atau karena aku takut padanya sehingga aku melihat dia sebagai orang agung. Tapi dialah pria yang sangat banyak peraturan itu. Satu kali saja ia membuka mulutnya maka akan ada satu peraturan atau peringatan yang akan muncul. Tapi dia baik. Ya cukup baik karena dia tidak pernah melarangku untuk selalu bersama Gadis atau untuk menjenguk ibu.

“Aku datang...” sapa ku padanya. Aku tidak tahu siapa namanya dan mengapa dia begitu berkuasa atasku. Tapi dia baik. Sekali lagi kukatakan dia baik.

“Mengapa begitu lama? Tahukah kamu tidak boleh terlambat?” jawabnya dingin tanpa memandang wajahku.

Aku hanya terdiam. Aku tidak mau mejawabnya. Karena dia pasti sudah tahu mengapa. Aku hanya berdiri mematung, sambil mendengarkan lonceng gereja yang berdentang. Tengah malam.

“Pergilah berdoa” ujarnya sambil menutup matanya. Tubuh tingginya terlihat sangat kokoh, bersandar di sandaran kursi gereja, wajahnya terlihat teduh. Kulihat keningnya berkerut. Tidak seperti biasanya.

Aku menurut saja. Ada satu bilik tempatku harus berdoa. Setiap malam. Sejak aku bertemu si pria tua ini, setiap malam aku selalu berada disini, berdoa, berdoa, dan berdoa. Terkadang ia menyuruhku bermain musik. Dan dengan senang hati aku menuruti semua perintahnya. Aku tidak tahu siapa yang mengaturku untuk selalu bersama dan menurutinya. Semua terjadi begitu saja. Aku tidak berani bertanya.

Doaku setiap malam sederhana. Hanya bercerita tentang apa yang kulakukan setiap hari, dalam ceritaku selalu hanya Gadis dan ibu yang kuceritakan. Aku menceritakan apa yang di alami Gadis seharian. Aku menceritakan tentang Samuel yang jahat pada Gadis. Aku menceritakan tentang ibu yang selalu menangis dan memakai baju kaosku yang sudah kusam. Aku terdengar seperti pengadu. Tapi aku ingin menceritakan semuanya dalam doaku. Aku tidak bermaksud mengadu. Aku hanya ingin menceritakan semuanya. Aku tidak ingin ada yang tersembunyi dariNYA.

Aku ingat dulu si pria tua pernah berkata, jika aku memiliki permohonnan, aku harus selalu jujur, mengikuti semua peraturannya, dan selalu hadir menemuinya setiap malam di gereja. Jadi, untuk itulah aku tidak mau melawan peraturannya. Aku memiliki permohonan. Ya, permohonan.

“Kau sudah selesai berdoa...?” pria tua itu datang dan menepuk pundak ku.
“Ya, Bapa. Saya sudah selesai.” Jawabku.

“Sudah hampir waktunya kamu kembali. Kamu akan segera pergi denganku. Tapi mengapa kamu masih saja bersama Gadis dan ibumu?” wajahnya terlihat sangat keruh. Aku tidak mengerti mengapa dia malam ini terlihat sangat sedih dan ada raut kemarahan di wajahnya.

“Pergi kemana? Aku tidak mengerti.”

“Ya pergi denganku, tidak berada disini. Karena disini bukan tempat yang tepat untukmu.”

“Aku tidak mengerti. Aku cukup nyaman disini.”

Aku pergi meninggalkan si pria tua yang masih duduk terpekur. Aku tiddak mengerti mengapa aku harus selalu mengikuti perkataannya dan sekarang ia menyuruhku untuk pergi. Pergi kemana? Dengannya? Tanpa Gadis dan ibu? Aku sudah cukup sengsara tidak bisa berbicara dengan Gadis maupun ibu. Tidak boleh berbicara. Tidak boleh menyentuh. Tidak boleh memberi tanda yang kentara bahwa aku ada. Tidak boleh memukul Samuel walaupun sejujurnya aku sangan ingin menghantam wajahnya yang selalu membuatku muak. Tidak boleh menyentuh Gadis, tidak boleh menggenggam tangannya, tidak boleh menghapus airmatanya. Semua tidak, tidak dan tidak.
Ini semua terasa membosankan,

 BERSAMBUNG.........


Tidak ada komentar:

Posting Komentar