Rabu, 09 Maret 2016

AKU DAN AYAH

              (Memori Tahun 2008)


             Minggu  sore, saat aku terjaga dengan kehadiran seseorang yang telah lama tak kulihat. Aku terpana dengan sosok hadirnya yang bagai sinar hangat mentari yang menghangatkan jiwa. Ayah,,, datang!!!

                  Aku tak menyangka, ini sangat ,’wah’ buatku. Memang sesungguhnya telah di katakan padaku jika beliau akan datang. Tapi tak ku sangka. Ini tidak mimpi!! Aku sadar sekarang. Bukan sedang mabuk, atau pusing karena saki kepala. Hmmmm..seorang yang kita sadrkah ketika kita sangat mengharapkan seseorang untuk datang dan ternyata dia hadir, perasaan seakan tak terlukiskan betapa bahagianya.
                    Tapi ada yang aneh,,, ayah terlihat tua, dengan rambut yang semakin’sedikit’ botak, tubuh yang seakan mulai menua, ah.... ini kah ayah ku?? (ada keraguan dalam hati). Tapi ada satu hal yang meyakinkan hati, yaitu SENYUM AYAH!!! Masih sama sepeti dulu, 4 tahun yang lewat. Tak berubah sedikit pun, tetap hangat, ramah, dan bersahabat. Dengan ciri khas tersendiri yang memngingatkan ku kembali akan senyum ayah sewaktu ku kecil dulu. Senyum yang menemani ku hingga ku dewasa. Aku mengingat, senyum inilah yang menghibur ketika tersa takut, sedih, kecewa, dan marah.

                    Hangat, inilah senyum ayahku. Mungkin semua orang punya cerita sendiri tentang senyum ayah mereka. Tapi aku ingin katakan bahwa senyum ayah ku lah hyang paling , paling, paling, hangat dan ramah. Senyum ayah membuatku merasa akulah seorang putri yang paling beruntung di dunia ini.

                   Tapi kehadiran ayah membuatku lebih banyak berdiam diri. Jangan tanya mengapa, karena aku pun tak tak tahu jawaban nya. Aku ingin bercerita banyak dengan ayah, tapi aku tak tahu harus dari mana untuk memulainya. Aku ingin bercerita tentang teman-teman ku, studi ku, bahkan aku ingin menceritakan betapa tidak menyenangkan hidup ku akhir-akhir ini. Tapi bagaimana cara untuk memulianya???

                    Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berkata apa-apa. Hingga ayah pulang, aku hanya terdiam  dan hanya memandangi wajah ayahku. Aku hanya bicara seperlunya, menjawab jika di tanya, dan kembali terdiam. Tapi aku yakin ayah pasti tahu isi hati ku kalau aku sangat menyayangi dan mengagumi ayah. Dan yang terpenting, aku sangat menghormati ayah. Ayah,,, kita mungkin adalah ayah dan anak, tapi kita jugu adalah sahabat terbaik sepanjang masa.


 With love,,,,,

Ananda


Tidak ada komentar:

Posting Komentar