(memori saat perjalanan menuju kampus di masa kuliah)
Hari
kamis saya pergi kekampus. Setelah menunggu seperempat jam, akhirnya ada angkot
yang lewat untuk saya tumpangi. Didalam angkot hanya ada saya sendiri. Setelah
berjalan sekitar 5 menit, seorang ibu naik keangkot sambil memasukkan sekarung
besar yang berisi kopi yang hendak dijualnya.
Sambil
tersenyum ibu tersebut duduk di samping saya. Usianya kira-kira setengah baya.
Dengan dandanan yang sangat sederhana, ia terlihat cantik dan rapi. Karena
merasa ibu tersebut cukup ramah saya pun menyapanya, walaupun setelah saya
sadari sapaan saya sangat basi (saya tidak pintar berinteraksi dengan orang
yang baru saya kenal).
‘Na
laho manggadis kopi do inang…?’ saya bertanya dalam bahasa Batak yang jika saya
terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira seperti ini, ibu mau
menjual kopi,ya..?.
Namun
dengan ramah ibu tersebut menjawab, ’iya,,, puji Tuhan , kali ini kopi kami
agak lumayan. Lumayan untuk ngirim sama anak.’
Saya
tersenyum mendengar jawaban ibu tersebut. Selintas terkelebat bayangan mama
saya yang pasti seperti ibu ini, bekerja, bekerja, dan bekerja hanya untuk
sekolah kami.
‘Anak
ibu sekolah dimana?’ Tanyaku tertarik
‘di Universitas *** , Jakarta, nak…’jawabnya bangga.
Matanya bersinar tatkala kumenatapnya.
’Dia
baru lulus SMA tahun ini. Sebelum dia lulus SMA dia sudah mengikuti ujian masuk
universitas. Bahkan sebelum hasil kelulusan keluar, dia sudah diterima di Universitas itu dengan beasiswa penuh. Syukur sekali buat Tuhan,
karena kalau saya yang biayain, pasti tidak sanggup. Kami tidak punya uang. Dia
sangat pintar. Dari ketiga anakku, dia yang paling tua dan dia yang paling
pintar. Sejak SD dia selalu juara 1 atau 2. Bahkan sampai dia SMK, prestasinya
tak pernah menurun. Dibandingkan dengan adiknya yang nomor dua, pintar juga.
Tapi belum pernah juara 1. Hanya sebatas juara 3. Dan yang paling buat ku
sedih, adiknya yang bungsu. Tahun ini dia tinggal kelas.’ Tutur ibu tersebut.
Sementara saya asyik mendengarkan ibu tersebut bercerita.
‘Mungkin
yang ketiga masih beradaptasi di sekolah kali ya bu…?’ ujarku untuk sekedar
menghibur hati ibu tersebut.
‘Tidak,,,.
Itu mungkin salah saya juga nak…’kata ibu itu dengan wajah menyesal.
‘dulu,
kami tinggal di Batam. Saya dan ayah anak-anak sama-sama bekerja. Kehidupan
kami cukup, keuangan tercukupi. Saat saya hamil pertama, asupan gizi, makanan
bernutrisi juga lancar. Pikiranku juga tenang saat itu. Kemudian saat hamil
kedua keadaan kami mulai tidak baik, tapi
kehamilanku saat itu cukup baik meski tak seistimewa pelakuanku pada
waktu aku hamil pertama. Kehidupan kami mulai susah. Dan pada saat kehamilan
yang ketiga, aku dan suamiku di PHK. Maklumlah kami bekerja diperusahaan. Saat
itu keadaan sangat tidak nyaman. Keuangan sulit, bahkan kami terpaksa pulang
kampung. Saat itu aku mudah stress, menangis, marah dengan keadaan kami.
Sampai-sampai aku tidak memperhatikan kesehatan anakku yang di kandungan.
Asupan gizi pun kurang. Itulah yang buat anakku yang ketiga ini agak kurang
dalam belajar. Kurang gizi waktu masa-masa kehamilanku. Kuakui itu salahku.
Tapi, mau gimana lagi…’
‘jangan
terlalu menyalahkan diri lah ibu….’ Ujarku. ‘pasti dia juga bisa pintar, tapi
mungkin untuk bidang lain atau dia butuh waktu yang agak lama untuk mengerti
pelajaran….’
‘iyalah,nak…’
jawab ibu tersebut. ’kami tidak pernah memarahinya meski dia tinggal kelas.
Kami dukung dia. Bahkan kakaknya yang baru kuliah ini sayang sekali dengan
adiknya yang ketiga ini. Si bungsu ini
penurut, suka mengalah, dia juga rajin. Cuma untuk belajar dia kurang.
Ternyata Gizi sejak dini benar-benar berpengaruh…..’
Percakapan
demi percakapan terus berlanjut hingga ibu itu turun dari angkot.
Sendirian
duduk diangkot, saya merenungkan makna gizi di balik cerita ibu tersebut. Gizi,
itu berupa zat yang berguna bagi tubuh agar bisa tumbuh dengan sehat. Tapi, ada
gizi yang lebih berkhasiat, yaitu kasih sayang, perhatian, pengertian,
kepedulian, dan saling memahami dari keluarga kepada sesama anggota keluarga
itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar