Rabu, 09 Maret 2016

KISAH DIDALAM ANGKOT

(memori saat perjalanan menuju kampus di masa kuliah)


Hari kamis saya pergi kekampus. Setelah menunggu seperempat jam, akhirnya ada angkot yang lewat untuk saya tumpangi. Didalam angkot hanya ada saya sendiri. Setelah berjalan sekitar 5 menit, seorang ibu naik keangkot sambil memasukkan sekarung besar yang berisi kopi yang hendak dijualnya.

Sambil tersenyum ibu tersebut duduk di samping saya. Usianya kira-kira setengah baya. Dengan dandanan yang sangat sederhana, ia terlihat cantik dan rapi. Karena merasa ibu tersebut cukup ramah saya pun menyapanya, walaupun setelah saya sadari sapaan saya sangat basi (saya tidak pintar berinteraksi dengan orang yang baru saya kenal).

‘Na laho manggadis kopi do inang…?’ saya bertanya dalam bahasa Batak yang jika saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira seperti ini, ibu mau menjual kopi,ya..?.

Namun dengan ramah ibu tersebut menjawab, ’iya,,, puji Tuhan , kali ini kopi kami agak lumayan. Lumayan untuk ngirim sama anak.’

Saya tersenyum mendengar jawaban ibu tersebut. Selintas terkelebat bayangan mama saya yang pasti seperti ibu ini, bekerja, bekerja, dan bekerja hanya untuk sekolah kami.

‘Anak ibu sekolah dimana?’ Tanyaku tertarik

‘di Universitas *** , Jakarta, nak…’jawabnya bangga. 

Matanya bersinar tatkala kumenatapnya.

 ’Dia baru lulus SMA tahun ini. Sebelum dia lulus SMA dia sudah mengikuti ujian masuk universitas. Bahkan sebelum hasil kelulusan keluar, dia sudah diterima di Universitas itu dengan beasiswa penuh. Syukur sekali buat Tuhan, karena kalau saya yang biayain, pasti tidak sanggup. Kami tidak punya uang. Dia sangat pintar. Dari ketiga anakku, dia yang paling tua dan dia yang paling pintar. Sejak SD dia selalu juara 1 atau 2. Bahkan sampai dia SMK, prestasinya tak pernah menurun. Dibandingkan dengan adiknya yang nomor dua, pintar juga. Tapi belum pernah juara 1. Hanya sebatas juara 3. Dan yang paling buat ku sedih, adiknya yang bungsu. Tahun ini dia tinggal kelas.’ Tutur ibu tersebut. Sementara saya asyik mendengarkan ibu tersebut bercerita.


‘Mungkin yang ketiga masih beradaptasi di sekolah kali ya bu…?’ ujarku untuk sekedar menghibur hati ibu tersebut.


‘Tidak,,,. Itu mungkin salah saya juga nak…’kata ibu itu dengan wajah menyesal.

 ‘dulu, kami tinggal di Batam. Saya dan ayah anak-anak sama-sama bekerja. Kehidupan kami cukup, keuangan tercukupi. Saat saya hamil pertama, asupan gizi, makanan bernutrisi juga lancar. Pikiranku juga tenang saat itu. Kemudian saat hamil kedua keadaan kami mulai tidak baik, tapi  kehamilanku saat itu cukup baik meski tak seistimewa pelakuanku pada waktu aku hamil pertama. Kehidupan kami mulai susah. Dan pada saat kehamilan yang ketiga, aku dan suamiku di PHK. Maklumlah kami bekerja diperusahaan. Saat itu keadaan sangat tidak nyaman. Keuangan sulit, bahkan kami terpaksa pulang kampung. Saat itu aku mudah stress, menangis, marah dengan keadaan kami. Sampai-sampai aku tidak memperhatikan kesehatan anakku yang di kandungan. Asupan gizi pun kurang. Itulah yang buat anakku yang ketiga ini agak kurang dalam belajar. Kurang gizi waktu masa-masa kehamilanku. Kuakui itu salahku. Tapi, mau gimana lagi…’


‘jangan terlalu menyalahkan diri lah ibu….’ Ujarku. ‘pasti dia juga bisa pintar, tapi mungkin untuk bidang lain atau dia butuh waktu yang agak lama untuk mengerti pelajaran….’


‘iyalah,nak…’ jawab ibu tersebut. ’kami tidak pernah memarahinya meski dia tinggal kelas. Kami dukung dia. Bahkan kakaknya yang baru kuliah ini sayang sekali dengan adiknya yang ketiga ini. Si bungsu ini  penurut, suka mengalah, dia juga rajin. Cuma untuk belajar dia kurang. Ternyata Gizi sejak dini benar-benar berpengaruh…..’

Percakapan demi percakapan terus berlanjut hingga ibu itu turun dari angkot. 


Sendirian duduk diangkot, saya merenungkan makna gizi di balik cerita ibu tersebut. Gizi, itu berupa zat yang berguna bagi tubuh agar bisa tumbuh dengan sehat. Tapi, ada gizi yang lebih berkhasiat, yaitu kasih sayang, perhatian, pengertian, kepedulian, dan saling memahami dari keluarga kepada sesama anggota keluarga itu sendiri.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar