"Cinta bisa datang kapan saja ia mau. Entah dengan cara apa dan bagaimana namun kita baru akan menyadarinya setelah ia hadir atau setelah ia pergi. semua tergantung kita. "
Sesaat aku tak tahu mengapa dan mengapa semua hal terjadi dalam hidupku. Sejenak aku merenung semakin dalam dan dalam hanya untuk semakin menyelami apa maksud dan tujuan dari semua kejadian yang ku alami sepanjang hampir seperempat abad kehidupanku hingga detik ini.
Diawali cinta di masa kanak kanak yang kudapat dari kedua orang tua ku dan keluarga. Kasih yang begitu tulus dan indah. Kasih yang hanya tahu memberi. Cinta yang hanya tahu memperhatikan. Sayang yang berdampak pada keikhlasan kedua orang tua yang rela memberikan segalanya demi putri mereka. Cinta yag sempurna. Kutak mengenal luka , ku juga tak mengenal patah hati, apalagi cemburu. Tidak ku mengenal semua yang bersifat pilu.
Hingga akhirnya ku beranjak dewasa. Kumengenal sebuah rasa. Rasa aneh yang entah datang dari mana, yentah di sebabkan oleh apa. Namun ini perasaan yang berbeda dari yang ku tahu selama ini .
Cinta yang menuntut balas, Cinta yang mengharap kembali, cinta yang egois, cinta yang samar. Semua terasa asing namun ada sesuatu rasa disana. Di relung ruang rongga hati.
Benar kata pepatah yang berkata,"hanya seseorang yang sejatilah yang akan meninggalkan jejak kaki di hati"
Ku bertemu dan mengenal. Ku melangkah dan berjalan, tak jarang juga aku berlari. Kerikil di jalanan, debu di udara hingga lobang dan belokan yang acapkali membuat ku jatuh, jatuh dan terus jatuh. Namun entah kekuatan dan tenaga dari mana membuatku masih dan terus masih dapat bangkit. Ku bangkit meski ku tahu akan ada lobang dan belokan lagi di hdapan sana yang mungkin saja akan kembali menjatuhkan ku, menjegal langkah ku, menghalangiku, Tetapi sekali lagi aku percaya aku pasti bisa bangkit kembali.
Tak usah memujiku berlebihan karena aku setangguh ini. Juga tak usah menghakimiku karena ketidaktelitianku saat berjalan di jalanan berbatu dan licin. Hidup adalah milik Sang Hidup yang kuasa. DitanganNYA sajalah raga fana dan jiwa rapuh ini berpasrah, berserah, merunduk, merendah, dan mengiba.
Hingga akhirnya IA bersedia kembali menyinarkan dunia dengan sinar kasihNy yang hangat dan damai.
Menghangatkan hati yang dingin, mencairkan kasih yang telah membeku, dan menumbuhkan kelopak bunga yang gugur.
Ia memang tak membuatku keluar dari lingkaran hujan badai dan petir guntur dunia ini, namun Ia mengajariku bagaimana menari di bawah hujan badai dan bernyanyi lantang dan indah di balik terpaan dentuman petir dan guntur. Ia tak pernah suka melihat ku bersembunyi dari semua badai yang ada.
Hingga Ia pun tampak mulai memberi jawab atas semua yang terjadi.
entah itu bernama apa, namun IA pasti sudah merencanakannya dengn sangat baik.
«dibawah langit malam dengan tauran manik langit terindah»
Tidak ada komentar:
Posting Komentar