Rabu, 09 Maret 2016

CSF , SIKAWAN

‘SI KAWAN’ 

Semester satu di Universitas Tapanuli. Aku berjalan pelan memasuki gerbang kampus yang di kiri kanan di penuhi berbagai sosok manusia dari berbagai kalangan, style, dan latar belakang. Aku tak begitu memperhatikan semuanya secara keseluruhan.
Ini adalah hari pertama aku hadir di kampus sebagai mahasiswa karena tiga hari sebelumnya aku masih di sebut calon mahasiswa. Dengan santai aku mengirim pesan singkat kepada seorang teman, karena dia yang pertama kali kukenal. Namanya landus. Aku memanggilnya Land.

ð kamu di mana?’
= ‘aku depan BAAK,Jeng..’
ð ‘jemput aq ke gerbang, donk… malu nihh’
= udah, gak usah pake malu sgala, jalan aja lurus. Tundukin kepala kalo malu…’
ð Oke dech, tunggu di situ ya,,,,’
= ‘okeee, jeng…’

Kira-kira seperti itulah awalku masuk ke kampus. Tanpa pernah kusadari aku akan menemukan beberapa teman dan cerita yang unik nantinya diantara kami.

Berawal dari mengenal Land, aku mengenal Pesta, Donna, April, dan Pepry terakhir si ganteng kami Erik. Jika di urutkan berdasarkan usia, Pepry, Pesta, April, Donna, Ety, landus. Dan tum kami pisahkan dari hitungan umur, atau tepatnya kami tak pernah membandingkan umur kami dengannya.

Bagiku mengenal keenam temanku ini adalah hal luar biasa. Seorang Ety bisa punya teman banyak begini adalah suatu hal yang unik karena sebelumnya tertutup dalam berteman.
Hari-hari dikampus kami lewati dengan berbagai kesenangan dan airmata.

ð Landus, dia adalah seorang pesolek yang mahir. Tak jarang dia mengomentari penampilan kami, mengajari kami untuk berdandan, dan banyak hal feminin lainnya. Usianya yang tergolong paling muda diantara kami sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang penyabar, dewasa, pemaaf, dan ribut. Jika aku menangis dia orang yang selalu berhasil membuatku tertawa. Dan dia juga orang yang bisa membuatku marah karena sifatnya yang terlalu baik. Yah,,, si pudan. Hari-hari berlalu, kini dia melakoni profesinya sebagai penjahit. Kuliah dijurusan bahasa Inggris, tapi bercita-cita jadi designer. Hah…?????????? Jangan kaget, dia memang paling aneh diantara kami. Bahkan dia pernah tidak bicara dengan April dalam jangka waktu yang sangat lama hanya karena masalah ‘hati’. Cinta membuat buta dalam bersahabat ternyata.

ð Ety. Si centil yang paling galak, cerewet, dan paling cengeng. Paling senang menutupi semua cerita kehidupannya dan jarang mau berbagi cerita dengan temannya. Sifatnya yang tak bisa di tebak terkadang membuat temannya marah dan tertawa. Baginya privasi adalah segalanya. Pernah sakit dan tidak memberitahu temannya namun pada akhirnya dia marah-marah kerena tidak ada seorang pun dari temannya yang menjenguknya. Kini dia berusaha melakoni kehidupannya sebagai mahasiswi yang berjuang keras menahan sifat pemberontaknya kerena dia seorang pengkritik yang pedas dalam berbicara. Pernah di marahi dosen dikelas karena mengkritik pengajaran dosen.

ð Donna, si lembut yang keibuan ini memang pantas di juluki ‘malaikat tak pernah marah’ karena dia memang tak pernah marah dalam keadaan apapun meski dia memang sudah ingin marah namun entah bagaimana dia selalu berhasil menahan marahnya. Cita-citanya ingin ke Prancis. Impian yang sangat besar namun kami mendukungnya. Kepintarannya yang luar biasa selalu mendapatkan IP yang lebih tinggi dari kami semua. Meski aku belajar setengah mati pun takkan pernah bisa menandinginya. Minimal aku kalah 0,09 point. Yah,,, itulah malaikat kami.

ð April. Pesolek minimalis. Wanita mungil ini sangat tidak pernah bisa ditebak jalan pikirannya. Wajah imutnya yang meembuat dia seolah masih pantas untuk mengenakan seragan SMP. Tapi sifatnya yang keras kepala atau tepatnya kepala batu terkadang sangat menyebalkan. Banyak pria mendekatinya untuk menjadi kekasihnya. Daftar nama-nama pria yang dekat dengannya pun cukup banyak. Namun, dia tetap dengan kekasih masa SMA nya. Sungguh tidak bisa di tebak. Dia bisa dengan mudahnya marah kepada kami. Dia akan mendiamkan kami dalam waktu yang cukup lama jika dia sedang marah. Namun, dia tak sungkan untuk memeluk dan menenangkan jika salah satu dari kami ada yang sakit atau bersedih. Pintar membuat kue membuat ku iri padanya. Sangat feminine. Yah, wajar dia punya beberapa kakak perempuan yang menjadi panutannya. Aku sering bertengkar dengannya, bahkan aku pun pernah sangat marah padanya. Namun, dia adalah teman belanja yang sangat menyenangkan karena kami sama-sama senang mengagumi dompet-dompet cantik yang tertata rapi di etalase toko di pasar. Sijutek. Itu kata yang tepat untuknya. (aku bisa membayangkan bagaimana wajahnya jika dia membaca tulisanku ini. ^-^ ). Yah bagiku dia memang sosok teman belanja dan teman berantam yang sangat oke!!

ð Pesta. Gadis pemilik wajah bulat dan rambut keriting (sekarang sudah lurus,lho…) ini benar-benar hobi makan tapi sangat malas memasak. Aku bisa membayangkan bagaimana tingkahnya saat kami memasak dirumahku. Dia lebih memilih duduk manis didepan tv dan menonton, sementara kami memasak. Dan dengan santai dia berkata, ‘silahkan masak yang enak yaaa,,,,, masalah cuci piring serahkan padaku nanti.’

Dan dengan senang hati kami memasak dan mengotori semua piring, gelas, sendok, panci, dan kuali karena ada jaminan bahwa seseorang akan mencucinya untuk kami. Dan beruntungnya, dia tidak pernah complain dengan itu semua. (mungkin dia berfikir bahwa ini adil). Dia akan menjitak kepala ku jika dia membaca tulisan ini.
Pesta selalu membuat kami tertawa hingga sakit perut. Hal apapun yang dilihatnya atau didengarnya akan di ceritakannya dengan versi lucu dan kami tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya. Aku masih ingat bagaimana saat dia masuk rumah sakit beberapa hari dan kami semua kesepian karena tidak ada yang membuat keributan saat di kampus. Melihatnya sakit terasa sangat tidak menyenangkan. Tidak ada canda tawa atau kelakar nakalnya. Yahhhhh,,,, itu moment terburuk. Namun, dia wanita yang hebat. Tertawalah sepuasmu selagi itu membuatmu nyaman. Itulah pesta.

terakhir : TumpalErik,si perfecsionist dan satu-satunya pria dalam grup kami (bisa dibilang kami mencurinya tanpa sengaja dari grup teman kami yang lainnya). Sitampan ini sangat memperhatikan penampilannya. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut, tak satupun yang luput dari perhatiannya. Rambutnya yang ditata sedemikian rupa sesuai dengan garis wajahnya. Wajahnya yang selalu mendapat ‘full atttention’ darinya selalu terlihat segar dan menarik. Kami jatuh hati pada nya. Senyumnya mempesona namun dia punya tawa yang sangat….. sangat luarbiasa. Dia akan tertawa dengan suara kerasnya. Pakaiannya yang modis dan selalu meniru gaya pakaian pria-pria sampul majalah ternama. Perfect, lucu dan keren. Namun cerewetnya juga ampun. Namun dia hanya 3 semester bersama kami di kampus. Semester berikutnya dia pergi ke Singapura. Dia bekerja disana. Namun, tidak lama dia kembali ke tanah air dan kuliah kembali bagian kesehatan di salah satu kampus di medan. Yah, dia mengubah jalan hidupnya. Kini dia tampak begitu menikmati kehidupannya yang baru di tempatnya yang baru dan dengan teman-temannya yang baru. Sesekali ia datang ke kampus kami dan bertemu dengan kami. Dia terlihat semakin perfect.

ð Terakhir, Pepryanti. Gadis manis berhidung mancung yang punya selera humor luar biasa. Baginya tiada hari tanpa tertawa. Kami menyukainya meski terkadang dia bersikap aneh. Dia menyembunyikan semua bebannya melalui tawanya. Terkadang dia terlihat sangat ramah, menyenangkan, dan lembut. Namun, dalam sekejap dia bisa berubah terasa sangat jauh, menyebalkan, keras kepala, pesimis, dan minder. Seakan kami tak mengenalnya jika dia sudah bertingkah demikian. Dia jarang bercerita kepada kami tentang masalahnya, tepatnya kepadaku. Tapi dia sering bercerita kepada si pudan. Dia sangat dekat kepada si pudan. 

     Satu waktu, aku, dia dan si pudan duduk bersama di tepi kolam kampus (aku tak mengerti kenapa di katakan kolam tersebut lebih mirip dengan empang), dia berkata, ‘semua terasa berat, lebih baik aku mati saja!!’. Mendengar dia mengatakan hal tersebut, aku marah. Aku benci mendengar nada pesimis darinya.

‘kau mau mati?! Mati saja sana! Tenang aja, nanti kami patungan beli peti mati mu. Sudah, mati saja sana!!!’
Dia terdiam. Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku tak tega melihatnya.

Sipudan dengan lembut menjawabnya, ‘kak,, tidak boleh bicara begitu. Tiap masalah ada jalan keluarnya. Ceritalah sama kami.’

Aku terdiam menunggu jawabannya.

‘mama ku sering marah-marah padaku. Keluarga kami lagi banyak masalah dan aku mungkin sudah tidak bisa kuliah lagi.’ Ujarnya pelan. ‘aku capek, mungkin mati lebih baik. Aku jadi tidak merasakan apapun lagi nantinya.’

‘mati mungkin tidak merasakan apa-apa lagi, namun pernah tidak kamu memikirkan bagaimana persaan orang yang kamu tinggalkan? Bagaimana perasaan kami? tan, kedua tanganmu masih begitu lembut, belum banyak yang kamu kerjakan dan sadar tidak masih banyak hal berarti yang bisa dikerjakan oleh kedua tanganmu. Hidup memang sulit, tapi ya hadapi sajalah. Karena itulah hidup.’

Dia terdiam. Perbincangan kami terhenti kerena beberapa teman yang lain datang menghampiri.

2 bulan kurang lebih, dia sakit dan harus operasi. Ada sesuatu yang harus dia angkat dari perutnya. Daging yang yang sudah bersarang diperutnya yang membuatnya merasakan kesakitan yang teramat sangat.

Kami begitu khawatir. Saat hari operasi, kami menelepon ibunya. Kami mnedengar kabar bahwa semua berjalan dengan lancar dan semua terkendali dengan baik. Kami lega mendengarnya. Tuhan benar-benar adil.

Pemulihan demi pemulihan dan akhirnya dia sembuh. Tidak dialaminya lagi rasa sakit perut jahat itu. Namun, masalah baru datang. Putus kuliah. karena alasan ini dan itu yang sedikit rumit. Teman-teman mengantarnya. Tapi aku tidak. Dengan alasan ini itu, aku tidak mengantarnya. Sebenarnya, aku benci perpisahan.

Di batam dia bekerja. Waktu berlalu dengan cepat. Kami tetap berkomunikasi, meski terkadang dia terasa sangat menyebalkan karena terlalu cuek. Terkadang dia meneleponku, dan kami bercerita-cerita hingga rasa rindu terobati. Dia bercerita, tertawa dan bernyanyi. Terkadang dia menyuruhku bernyanyi.

Satu hari, hari jumat sore, awal desember 2012 dia meneleponku. Saat itu aku sedang kebersihan di rumah. Dengan menggunakan headset, aku bekerja sambil berbicara dengannya.

‘tan, gman kabarmu?’
‘baik donk…. Kamu gimana?’
‘baik juga, Cuma kantongku gak baik’
‘akh, itu mah udah takdir elu kaleeee …’ ledeknya, dan aku tertawa.
‘gimana tan, kapan pulang?’
‘doain ajalah tahun depan aku pulang. Sekalian bawa si dia.’
‘wahhhh,,, mantap tuh tan. Eh tan, nanti kalo pulang, traktir kami makan mie ayam ya….’
‘tenang aja, jangankan mie ayam, sekalian sama penjualnya kita beli.’
‘hahahahahha benar ya, tan?’
‘iya,,,, tenang aja. Kita jalan-jalan sampai pegal. Nanti ku belikan baju kaos dari sini. Tapi yang murah aja ya, biar uangnya cukup.’ Janji nya padaku.
‘wuihhhh, makasih loh tan… baik dech..’
        ‘eh, nyanyi dulu…’ pintanya padaku.
        ‘ahhh, lagi serak suaraku. Tan lah yang nyanyi….’ Ujarku

      Dia bernyanyi, bercerita dan tertawa. Dia berjanji akan         pulang pada natal tahun depan. Satu jam lebih kami bercerita, dan dia harus menutup teleponnya karena aku memintanya.

Selasa sore aku pulang dari kampus bersama dengan si pudan. Aku turun di pasar bersama pudan dan menunggu seseorang datang menjemputku. Hujan yang menguyur pasar membuat ku dan pudan berteduh di emperan toko. Kami berdiri seperti tunawisma yang kebingungan akan tidur dimana mala mini sementara gigi gemelutuk dan bibir bergetar kerena kedinginan. Saat situasi sangat tidak enak, sebuah mobil truk berisikan bahan bangunan berhenti tepat di hadapan kami dan para pekerjanya menggoda kami, seakan kami adalah anak kecil yang bisa mereka ledek sepuasnya. Aku dengan wajah sewot tak peduli, namun sipudan malah bisa bercanda seenaknya. Dia memang ramah pada siapapun. Aku heran dengan sifatnya yang satu ini. Tiba-tiba telepon pudan barbering.

‘pesta memanggil’
‘hallo kak,,,’
‘apa??? Gak kedengaran suaramu kak. Ujan disini.’
‘Halooooo….’
‘ee,, iya,, udah kedengaran. Apa kak?? Aaa…. Aaa???
Kakak bohongkan??? Bilang kakak bohong.!! Gak betul itu kak. Dia gak boleh meninggal.” Jerit si pudan sambil memelukku tiba-tiba. 

Aku terkejut mendengar kata-katanya yang terakhir. Meninggal?? Siapa??? Itu yang adda di benakku. Baiklahhh, aku pun memelukknya, mengusap kepalanya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Teleponnya di matikan. Sipudan menangis keras.

‘hei,, siapa yang meninggal…?’ Tanyaku penasaran
‘kak ty,,, si pep meninggal kata kak pesta.’ Dan seketika itu juga pecahlah tangisnya si pudan. 

WHATTT????!!!!!
Meninggal?

Hallowww,,, dia baru saja meneleponku hari jumat kemarin. Ini tidak lucu. Sungguh tidak lucu.
‘kamu yakin dek kalau mereka tidak sedang bercanda? Kamu tahukan pep dan pesta itu becandanya ampun-ampunan. Coba telepon pep sekarang.’ Ujarku sambil menyangkal semua berita itu.
‘oke kak… ‘
Krrrrrrrrrrr…….
‘hallo…, tulang? Ini landis, pepry ada?
……
‘serius dulu tulang….’
….
Tuuuutttttttttt….!!!
‘kak,,, itu semua gak bohong kak… papanya pep lagi ngurus administrasi bandara biar bisa bawa kak pep kesini.’
Sejenak ku tertegun. Tuhan, mimpikah ini? Aku menggigit bibirku. Terasa sakit. Ini tidak mimpi. Aku hanya bisa memeluk sipudan dan sambil berkata bahwa itu semua bohong.
Waktu berlalu terasa lambat. Aku bahkan sudah tidak mengingat lagi bahwa tujuanku sebenarnya adalah untuk menunggu seseorang untuk menjemputku.

Sebuah pesan masuk ke ponselku.
ð ‘sudah dimana posisinya,dek?’
ü Di depan toko bangunan.
ð ‘tunggulah. Aku sudah mau sampai.
ü Okkk….

Aku dan si pudan bingung harus berbuat apa. Kami hanya bisa saling memeluk dan menangis. Kami sudah tidak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang melihat tingkah kami. Beberapa pria mencoba menggoda dan mengejek kami, tak kami gubris sedikit pun.

Abang datang. Wajahnya penuh keheranan.
‘ada apa?’ Tanyanya.
‘teman kami meninggal.’ Jawab ku pelan.
‘jadi kalian mau melayat ketempatnya?’
‘tidak tahu, jenazahnya belum sampai. Masih di batam. Mungkin besok pagi baru sampai.’
‘ya sudah, pulang saja dulu. Besok baru kita kesana. Ini sudah malam.’
Setelah diskusi sejenak dengan sipudan, akhirnya kami pulang. Aku tidak tahu apakah si pudan langsung ke rumah pep atau tidak. Mungkin dia langsung kesana. Aku yakin itu.

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa bersandar di punggung abang. Semua tangisku tumpah di punggungnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Semua kenangan, cerita, pertengkaran, emosi, canda tawa, nyanyian yang sering kami nyanyikan bersama, bahkan suaranya saat dia berbicara denganku ditelepon dihari jumat kemarin masih terasa sangat nyata. Tawa nya yang penuh semangat saat dia bercerita tentang pengalamannya bekerja di Batam. Aku hanya bisa menangis mengingat semua itu. Dalam hatiku aku masih menyangkal semua itu.

Setiba dirumah aku menumpahkan tangisku. Di kamar aku menangis sejadi-jadinya. Di dinding aku melihat ada fotonya. Senyumnya terlihat seperti mengejekku. Aku melempar fotonya dengan bantal.

Menyebalkan. Masih bisa kau tersenyum sementara aku menangisi kematianmu???

Abang datang dan menghiburku.
‘mau menangis sampai kapan? Dia tidak akan bangun lagi meski kamu tangisi sampai suara serak dan kamu sakit. Ikhlaskanlah dia. Dia sudah tenang disana.’

Aku diam, kelelahan dan tertidur.
Keesokan harinya kami berkumpul dan menyiapkan karangan bunga, sebuah tulisan yang kubuat kami selipkan di karangan bunga tersebut. Tidak ikhlas, tapi kami harus melepaskannya. Terasa tidak adil, tapi inilah kehidupan. Yang pergi harus di relakan, dan yang tetap tinggal itu berarti masih harus terus berjuang di dunia yang fana ini.

Kami tiba di rumah pepry saat hujan turun. Dalam hati kuberbisik,’alam pun menangis...’

Tak sanggup aku melihat jasadnya yang terbujur kaku di ruang tamu rummahnya. Aku ingat beberapa waktu lalu saat dia baru selesai operasi saat dia pulang dari Medan dia terbaring di tempat yang sama saat kami mengunjunginya. Hanya bedanya saat itu dia tertawa menyambut kami dan saat ini dia diam saja. Tak ada suara riang darinya, tidak ada senyum manisnya yang menyambut kami. Saat ini hanya suara tangis mamanya yang menyambut kedatangan kami dengan beberapa suara ibu-ibu yang berbisik-bisik saat melihat kami datang.

Kami dipersilahkan untuk membuat acara. Sepanjang acara kami hanya bisa menangis. Kusentuh tangannya. Dingin dan kaku. Tak sehangat dan selembut dulu. Berbeda. Dingin. Dan kaku.

Kali ini aku pun kembali tak bisa menghantarnya pergi. Di pertengahan acara aku harus pulang. Opung mau berangkat liburan hari ini dan aku harus menghantarnya. Dalam hatiku aku membatin’ bahkan untuk terakhir kalinya pun aku tak bisa menghantarnya. 

Aku bersyukur ada alasan untuk pergi. Karena aku benci perpisahan. Aku tidak mau melihat semua hal menyebalkan itu. Biarlah, biarlah begitu. Selamat jalan sahabat. Kami tetap mengasihimu.

Biarlah kami sahabatmu yang masih berkelana di bumi fana ini di limpahi tawa. Kami akan mengenangmu dalam tiap tawa kami. Dalam setiap doa kami. Terima kasih untuk waktu yang sangat singkatyang telah kita lewati bersama. Suatu hari nanti kita akan berkumpul kembali dalam keabadian si rumah yang kekal.


(sahabat ini Maret lho,,, bulan kelahiranmu. aku masih mengingatnya. kau tahu, kami masih tetap merindukan mu)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar