Rabu, 09 Maret 2016

Selamat Jalan Gadis Ayu-ku

 AYU P


In memoriam, Ayu P. Melihat kalimat nan singkat tersebut membuat seluruh akalku serasa lumpuh, daya pikirku seakan mati, nafasku serasa terhenti, tubuhku terasa mati rasa. Rasa perih yang tak dapat ku ungkapkan dengan rangkaian kata-kata.

 Batinku menjerit, Tuhan, mengapa harus dia yang ku cintai yang pergi? Mengapa begitu cepat dia Kau panggil? Cinta kami yang belum berlabuh dipelaminan. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Mengapaaaaaaa???? Apa dosanya? Apa salahnya?

Beratus ucap duka, beribu lantunan doa yang di lantunkan, tak dapat menghibur rasa sakit ini. Aku terdiam dalam berjuta keributan. Melihatnya terbaring kaku, dengan seulas senyum di wajahnya membuatku marah.

‘kau pergi meninggalkanku, dan kau masih bisa tersenyum?’ desisku.

Ayu,,, gadis yang kukenal ini benar-benar seayu namanya. Entah bagaimana aku bisa jatuh hati padanya, semua berjalan begitu saja dan kami menjalin hubungan. Yah,,, dia memang tak seiman denganku. Tapi respon yang baik dari keluarganya membuatku percaya diri untuk terus bersamanya.

Sahabatku, oh tidak, tepatnya kekasihku. Itulah dia. Dia menjadi segalanya bagiku. Disaat ku penat dengan berbagai tuntutan kehidupanku, senyum tulusnya menguatkanku. Disaat ku terpuruk karena kelalaianku, tangan kecilnya yang lembut menarikku keluar dari jurang kelam. Ketika emosi memenuhiku, suaranya yang syahdu meredam amarah. Ketika ku tertawa, tanpa berbangga diri ia mendampingiku dan mengingatkanku.

Lemah gemulai perilakunya, lembut manis tutur katanya, tulus tindak tanduknya membuatku benar-benar terpesona. Dia menjadi kekasih, sahabat, teman diskusi, tempat berbagi, dia benar-benar menjadi segalanya bagiku. Oh, Tuhan sempurnanya dia.

Terkadang tak jarang aku menggodanya, membuatnya tersipu, dan aku terkekeh melihat sosoknya yang polos. Rambut panjangnya yang tergerai, benar-benar melukiskan sosok keibuan.

Kebiasaan untuk menghabiskan sore bersama adalah hal yang menyenangkan bagi kami. Dengan penampilan apa adanya ia keluar dari rumahnya, menemuiku yang sedari tadi telah menunggunya. Rambutnya yang di gulung, memberi kesan rapi membuatku terpesona. Ah,ayu,,, ayu,,, aku begitu menyukaimu.

Waktu berlalu, seiring waktu ibarat bunga, cinta yang terus bersemi. Tak pernah terbesit dalam pikiranku bahwa takdir akan berkata lain. Ayu yang ku kenal begitu kuat, tiba-tiba terlihat begitu lemah. Kesehatannya memburuk. Tak ada yang tahu bagaimana awalnya. Hingga akhirnya sebuah vonis dari dokter yang mengatakan waktu ayu hanya terhitung bulan karena kanker.

Detik itu hati ini menjerit dan memohon keadilan dari Tuhan, menuntut Tuhan atas apa yang terjadi. Namun seolah Tuhan tak mendengar, seakan Tuhan tak peduli, Tuhan benar-benar memanggil Ayu ku. Ya,, Tuhan memanggil Ayu ku yang ku kasihi. Aku menuntut kepada Tuhan, namun Tuhan seakan tak mau menjawab.

Tak ada yang menginginkan kehilangan orang terkasih, namun tak ada yang dapat melawan kehendakNYA. Kehilangannya tak membuatku lekas melupakannya. Ayu hidup di hatiku. Menempati salah satu tempat istimewa di hatiku. Bagiku dia tidak mati, bagiku dia hanya pergi ke suatu tempat dan sedang tersenyum memandangku saat ini. Ia kini di rumah yang nyaman dan hangat, tidak lagi dia rasakan rasa sakit karena kanker. Dia telah mendapatkan tubuh yang baru, yang tidak ada rasa sakitnya.

Aku percaya dia tidak benar-benar meninggalkanku. Dia masih sering menemuiku, mengingatkanku, menemaniku seperti dia masih di sisiku. Suaranya, tawanya, dan tingkah lakunya masih terasa segar dalam ingatanku. Selamat jalan kekasih. Terima kasih untuk cinta tulusmu padaku.

(Sumbangsih cerita dari seorang sahabat yang bersedia kisah kasihnya di ikutsertakan sebagai inspirasi bagi setiap orang yang ingin memahami apa itu kasih yang sesungguhnya.)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar