AYU P
In
memoriam, Ayu P. Melihat kalimat nan singkat tersebut membuat
seluruh akalku serasa lumpuh, daya pikirku seakan mati, nafasku serasa
terhenti, tubuhku terasa mati rasa. Rasa perih yang tak dapat ku ungkapkan
dengan rangkaian kata-kata.
Batinku menjerit, Tuhan, mengapa harus dia yang ku
cintai yang pergi? Mengapa begitu cepat dia Kau panggil? Cinta kami yang belum
berlabuh dipelaminan. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Mengapaaaaaaa???? Apa dosanya?
Apa salahnya?
Beratus
ucap duka, beribu lantunan doa yang di lantunkan, tak dapat menghibur rasa
sakit ini. Aku terdiam dalam berjuta keributan. Melihatnya terbaring kaku,
dengan seulas senyum di wajahnya membuatku marah.
‘kau
pergi meninggalkanku, dan kau masih bisa tersenyum?’ desisku.
Ayu,,,
gadis yang kukenal ini benar-benar seayu namanya. Entah bagaimana aku bisa
jatuh hati padanya, semua berjalan begitu saja dan kami menjalin hubungan.
Yah,,, dia memang tak seiman denganku. Tapi respon yang baik dari keluarganya
membuatku percaya diri untuk terus bersamanya.
Sahabatku,
oh tidak, tepatnya kekasihku. Itulah dia. Dia menjadi segalanya bagiku. Disaat
ku penat dengan berbagai tuntutan kehidupanku, senyum tulusnya menguatkanku.
Disaat ku terpuruk karena kelalaianku, tangan kecilnya yang lembut menarikku
keluar dari jurang kelam. Ketika emosi memenuhiku, suaranya yang syahdu meredam
amarah. Ketika ku tertawa, tanpa berbangga diri ia mendampingiku dan
mengingatkanku.
Lemah
gemulai perilakunya, lembut manis tutur katanya, tulus tindak tanduknya
membuatku benar-benar terpesona. Dia menjadi kekasih, sahabat, teman diskusi,
tempat berbagi, dia benar-benar menjadi segalanya bagiku. Oh, Tuhan sempurnanya
dia.
Terkadang
tak jarang aku menggodanya, membuatnya tersipu, dan aku terkekeh melihat
sosoknya yang polos. Rambut panjangnya yang tergerai, benar-benar melukiskan
sosok keibuan.
Kebiasaan
untuk menghabiskan sore bersama adalah hal yang menyenangkan bagi kami. Dengan
penampilan apa adanya ia keluar dari rumahnya, menemuiku yang sedari tadi telah
menunggunya. Rambutnya yang di gulung, memberi kesan rapi membuatku terpesona. Ah,ayu,,,
ayu,,, aku begitu menyukaimu.
Waktu
berlalu, seiring waktu ibarat bunga, cinta yang terus bersemi. Tak pernah
terbesit dalam pikiranku bahwa takdir akan berkata lain. Ayu yang ku kenal
begitu kuat, tiba-tiba terlihat begitu lemah. Kesehatannya memburuk. Tak ada
yang tahu bagaimana awalnya. Hingga akhirnya sebuah vonis dari dokter yang
mengatakan waktu ayu hanya terhitung bulan karena kanker.
Detik itu
hati ini menjerit dan memohon keadilan dari Tuhan, menuntut Tuhan atas apa yang
terjadi. Namun seolah Tuhan tak mendengar, seakan Tuhan tak peduli, Tuhan
benar-benar memanggil Ayu ku. Ya,, Tuhan memanggil Ayu ku yang ku kasihi. Aku
menuntut kepada Tuhan, namun Tuhan seakan tak mau menjawab.
Tak ada
yang menginginkan kehilangan orang terkasih, namun tak ada yang dapat melawan
kehendakNYA. Kehilangannya tak membuatku lekas melupakannya. Ayu hidup di
hatiku. Menempati salah satu tempat istimewa di hatiku. Bagiku dia tidak mati,
bagiku dia hanya pergi ke suatu tempat dan sedang tersenyum memandangku saat
ini. Ia kini di rumah yang nyaman dan hangat, tidak lagi dia rasakan rasa sakit
karena kanker. Dia telah mendapatkan tubuh yang baru, yang tidak ada rasa
sakitnya.
Aku
percaya dia tidak benar-benar meninggalkanku. Dia masih sering menemuiku,
mengingatkanku, menemaniku seperti dia masih di sisiku. Suaranya, tawanya, dan
tingkah lakunya masih terasa segar dalam ingatanku. Selamat jalan kekasih.
Terima kasih
untuk cinta tulusmu padaku.
(Sumbangsih
cerita dari seorang sahabat yang bersedia kisah kasihnya di ikutsertakan
sebagai inspirasi bagi setiap orang yang ingin memahami apa itu kasih yang
sesungguhnya.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar