MENGAPA SAYA MENJADI GURU? ATAU SAYA ADALAH GURU YANG TIDAK INGIN MENJADI GURU? ATAU SAYA MEMANG BUKAN GURU?
Ini adalah pertanyaan indah nan berat serta parah dan terparah serta sangat gila yang pernah ada dalam sejarah hidup saya.
Tapi mau bagaimana pun gelar saya pendidikan. sekian tahun di zaman dahulu kala, saya lulus SMA dengan ambisi besar serta impian yang sangat tinggi. ingin menjadi seorang akuntan, duduk di balik tumpukan hitungan laba rugi, jumlah uang yang menggunung, dan untuk itu tentu saya harus kuliah si sekolah tinggi akuntansi negara dan saya membayangkan gaji yang luarbiasa serta kehidupan yang membaik. dengan nilai pelajaran saya yang sempurna di berikan oleh guru akuntansi saya 100 untuk membuat neraca dan lain lain serta kerapian yang luar biasa. bahkan agar bisa masuk ke jurusan IPS saya menentang pendapat guru kimia saya yang luar biasa yg menganjurkan saya masuk IPA.
Kemudian saya juga pernah berambisi ingin menjadi seorang sekertaris hebat seperti yang ada di film korea , yang menguasai seluruh administrasi dan mengatur segalanya dengan keanggunan dan kecerdasan yang melebihi big boss, memiliki banyak relasi, mengatur proyek dan meeting penting. ahh,,, sangat tinggi.
Saya juga pernah bermimpi untuk menjadi seorang ahli kandungan yang luar biasa handal. dengan sarung tangan karet, saya melihat darah berceceran dan mendengar jeritan ibu-ibu melahirkan serta menjadi orang pertama yang menyambut si bayi sang penerus bangsa lahir. bisa saja yang baru lahir itu adalah calon presiden yang bisa membebaskan bangsa ini dari korupsi dan perkelahian akibat SARA DAN SEBAGAINYA. hebat bukan??
Baiklah, saya lulus SMA lalu saya mengalami perputaran dunia yang tiba-tiba terasa seperti longsor di tengah malam dan meratakan seluruh bangunan rumah.
Saya tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mewujudkan semua impian besar itu. Entah mengapa aku di campakkan ke lingkungan dimana aku harus menjadi seseorang yang akan di gelari S.Pd.
Semester pertama kuanggap seperti sebuah permainan. Antara kuliah dan tidak. Telinga saya bosan mendengar komentaar yang berkata,” kamu pintar tapi kamu malas!
IP yang buruk. Tapi entah mengapa aku tidak pernah dapat nilai D apalagi E. NEVER!!!!!
Oh how so lucky I am!
Day by day have passed.
Tralaaaaa........ PPL dihadapan mata.
Menghadapi sekian puluh manusia labil, hahahahaha.... anak-anak muda yang emosinya luar biasa dengan ego yang sangat heba, yahhhh,,,, anak-anak SMA. Peraturan kampus yang sangat kusukai, tidak memperbolehkan mahasiswa praktek mengajar di SD atau yang sederajat.
Tiga bulan berlalu. Nilai PPL oke. Dan saya selalu merasa bahwa itu semua masih sebuah keberuntungan dan otak ku yang 80% cerdas tapi tidak pintar ini.
Skripsi dan lain lain mulai di hadapan. Hahahaaa.... wisuda di waktu yang sedikit agak terlambat. Seharusnya bulan delapan tapi jadi bulan 12 karena aku merasa aku tak mampu tak sanggup streesss gila dan lelaaaahhhhhhhhhhhh. (upsss .... hahahha agak buang nafas sedikit, yaawww...) ^_^
Lalu lah aku sekarang terjun di dunia pendidikan. Berrsama anak-anak yang luar biasa, anak-anak yang menginspirasi, yang selalu ribut dengan coletehnya, yang selalu merasa seolah mereka sungguh sudah besar.
Aku menyukai keadaanku yang sekarang, menyukai pekerjaan ku, menyukai kehidupan yang dikelilingi buku, buku, buku dan materi ilmu.
Mengapa aku menjadi guru? Semua masih misteri bagiku. Tapi aku mulai menyukai dan mencintai apa yang ada di hadapanku saat iini. Mencintai adalah bagaimana kita belajar menyukai sesuatu yang tidak terlalu kita ketahui dengan cara belajar dan mencari tahu.
BE A TEACHER ALWAYS TEACH ME HOW WE ENJOY OUR LIFE
#PerempuanDibalikLemariBuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar