Awal kenalan dulu, kekasihku sering bertanya, sedang apa dirimu?
Dan selalu ku jawab, sedang tiduran lah, sedang baca buku lah, sedang online lah, sedang nonton lah. Itu saja.
Hingga akhirnya memutuskan utk pacaran, jawaban saya masih sama.
Hampir setengah tahun. Tidak pernah jawaban ku sedang masak, sedang nyuci, atau apapun itu yg berbau sifat feminim perempuan.
Ia tak pernah bertanya. Hingga akhirnya aku yang bertanya. Kenapa tidak pernah curiga pada ku yg tak pernah mengatakan sedang masak dll.
Hahahahahhaaa
Sebenarnya, saat saya menjawab sedang online dan lain sebagainya, saya sedang menjatuhkan penilaian saya di hadapannya. Saya sengaja membuat diri saya semalas mungkin dihadapannya. Sengaja menunjukkan betapa pemalas dan santainya hidupku. Betapa tidak feminimnya diriku.
Namun ia tetap menyatakan perasaannya padaku. Ia memintaku menjadi kekasihnya, sahabatnya, temannya, dan rekan nya. Ia memintaku untuk menjadi pasangannya dan pendoa baginya serta ia mengatakan bersedia menjadi demikian juga bagiku. Saat ku berkata, aku ragu, ia menyakinkanku untuk membuang keraguanku padanya.
Sejak saat itu saya mulai jujur terhadap aktifitas ku padanya.
LDR bagi orang mungkin sulit. Ya namun dua tahun dengan pria ini, LDR nya baik baik saja.
Apakah dia tidak melihat wanita lain? Pasti dia pernah melihat wanita lain. Dia punya mata. Ditempatnya bekerja pasti ada wanita yg dilihatnya. Sama seperti ku, dalam aktifitasku banyak pria yang kulihat, bahkan bercakap-cakap.
Namun, hati dan pribadi masing2lah yang tahu. Ia tidak pernah sungkan untuk menunjukkan perasaannya padaku di hadapan orang tua ku, orang tua nya, teman, dan dimedia sosial kami.
Jika selama ini aku berfikir LDR mustahil, maka kini, segala doa dan harapan kami hunjukkan kepada DIA yang Mahakuasa untuk merestui.
I love you, Abo .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar