Kamis, 04 Januari 2018

Flashback II

Semakin mendekati hari nya, semakin rasa haru ini membuncah dalam dada. Haru yg amat sangat. Bercampur baur dengan rindu.

Rasa yang sama seperti beberapa minggu sebelum aku mengenalmu. Ditambah dengan mimpi yg hadir dalam tidurku. Kerinduan yg teramat dalam pada sosok yg hadir dalam mimpiku. Yang tersenyum hangat dan tertawa renyah menatapku. Hingga ku terbangun dan sangat ingin tertidur lagi dan lagi agar bisa melihatnya.

Sesosok pria yg tidak kukenal, dua tahun yang lalu, menemuiku dalam mimpi. Menyapaku. Menghampiriku. Memberi rasa haru yang membuncah, rasa bahagia yang hampir membuat rongga dada meledak, dan rasa rindu yg berlebihan pada sosok yg tidak kukenal sama sekali.

Ya, Dua tahun yang lalu. Bahkan, hingga aku menuliskan ini, ada perasaan yg sama bahkan jauh lebih besar dari dua tahun yang lalu.

Di akhir desember, dua tahun lalu, sosok itu mulai menghampiri ku dalam mimpi ku.
Awal januari , mimpi itu mulai intens menghampiri , namun kuanggap itu hanya sebuah imajinasiku akan sosok yang akan membahagiakanku karena luka setelah kegagalan.

Saat mimpi itu berakhir dan aku terbangun, air mata menetes, bahagia, haru dan ingin sosok itu hadir dan memberi senyumnya lagi padaku.

Aku ingat, 2014 desember, sebuah pandangan kutemukan di altar gereja di medan. Namun kuanggap itu sebuah imajinasi . Namun, setelah kehadiran mimpi itu di desember 2015, mempertegas penglihatan. Sosok yang sama namun tidak ku kenal sama sekali.

Aku tidak memiliki ide siapa dia.
Namun ada sebuah rasa yg mengganjal dalam hati yg menimbulkan haru dan perasaan hangat.

Rasa haru itu membuatku menangis ditengah malam setelah ku terbangun dari mimpiku. Aku ingin terulang lagi mimpi itu. Aku ingin melihat sosok pria itu lagi.

Sosok yg lembut dan hangat. Yang memberiku senyum dengan bibir dan tatapan matanya. Yang menatapku dengan kerinduan yg mendalam.

SIAPA DIA???? jerit batinku.

Aku mulai memasuki fase merindukan sosok yg tidak nyata. Namun kehangatan senyumannya dan tatapan matanya terasa sangat nyata. 

Mendaraskan doa dalam kalimat yg tiada ku bisa mengingatnya. Hanya mengatakan aku merindukannya sebelum ku tidur, maka mimpi itu akan hadir.

Aku sangat merindukan sosok yang tidak kukenal itu. Terlalu amat merindukan bahkan hingga kerinduan itu tiada pernah kurasakan sebelumnya terhadap sesiapapun.

Aku mulai berfikir aku gila. Aku selalu berharap bisa segera tertidur dan bermimpi untuk bertemu dengannya kembali. Namun, aku nyaman.

Siang hari, aku bekerja seperti biasa. Namun dimalam hari, aku mulai merindukannya. Menutup mata dan mengingat kembali mimpi itu. Rasanya sangat bahagia. Dikasihi dengan begitu lembut, ditatap dengan tatapan yang sangat penuh kasih.

Aku mulai ingin mengkonsumsi obat tidur, agar aku bisa tertidur lebih lama agar aku bisa lebih lama memimpikannya, melihanya, menatapny, dan menikmati tatapan dan senyumnya.

Sekalipun dalam mimpi tiada kalimat terucap namun satu tatapannya berjuta kalimat terlontar. Jutaan kerinduan yang mendalam terujar.

Hingga akhirnya seorang teman mengirimkan sebuah foto padaku dan aku tidak merasa asing dengan wajah dalam foto. Aku seperti pernah mengenal siapa sosok itu. Aku merasa dekat dengan wajah itu. Hingga akhirnya aku menemukan, sebuah foto lama nya yg memang sangat mirip dengan penglihatan sosok yg hadir saat aku berdoa di gereja di Medan.

Dia. Dia. Dia pria yang aku mimpikan itu. Bukan yang aku mimpikan, namun yang hadir dalam setiap mimpiku. Ah, apapun itu. Aku ingat!!! Aku bertemu dengannya dalam mimpi. Aku melihatnya dalam mimpi. Aku melihatnya saat aku meminta pada Tuhan berikan aku jawaban atas pergumulanku.

Dia. Pria yang sangat ku rindukan. Bahkan aku terlalu merindukannya jauh sebelum aku melihatnya. Tatapan nya, senyumnya, semua sama.

Tuhan menjawab pergumulan doa ku dengan caraNya yang ajaib.

Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Aku mengasihimu. Terima kasih sayang, telah hadir dalam mimpi dan kini telah hadir nyata dalam hidupku.

My Xaverius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar